pembahasan kali ini saya kaitkan dengan maraknya pemberitaan bahwa albumin ikan gabus sangat berkhasiat untuk kesehatan. banyak sekali iklan iklan yang memberitakan kapsul albumin, albumin ikan gabus dalam berbagai bentuk baik ekstrak maupun dalam bentuk sediaan. Tapi apakah betul kalau albumin banyak ditemukan pada daging ikan gabus?
Dalam sebuah seminar pada tahun 2015, saya mendengarkan presentasi yang menarik terkait ikan gabus yang mempunyai khasiat sebagai penghasil albumin yang banyak bermanfaat dalam operasi bedah, mempercebat pembentukan sel baru, dsb. Namun, saat itu moderator yang mengatur jalannya diskusi malah memberikan pandangan yang berbeda. Dia tidak yakin dengan albumin ikan gabus, beliau malah berujar " saya sering berdiskusi dengan dunia kedokteran, dan tidak ada albumin yang menjadi khasiat utama, melainkan banyak ditemukan pada asam amino terutama glutamat". Pernyataan ini cukup heboh waktu itu karena kita tau glutamat selama ini hanya sebagai pemberi rasa umami. Saya yang juga ikut ketawa pada waktu itu, masak profesor ngomongnya ngaco.
Namun diskusi itu kembali mengingatkan saya ketika saya kembali berdiskusi dengan dosen saya yang kebetulan juga lagi mengembangkan albumin dan juga molekuler. Beliau menghentikan sementara penelitian ini, karena setelah beliau juga berdiskusi dengan guru beliau di Jepang. Pertanyaan yang sama, apakah benar albumin ini dihasilkan oleh ikan gabus? yang selama ini juga banyak diteliti oleh para ilmuwan.
Beberapa waktu itu juga saya kembali teringat, kalau memang albumin banyak dari ikan gabus, kenapa tidak banyak jurnal yang spesifik yang mengatakan demikian(bahkan banyak penelitian yang BM albumin berbeda dengan BM protein daging ikan gabus), dan kenapa diluar negeri masih menggunakan serum albumin yang biasa ditemukan di plasma darah? dan bagaimana penyikapan kehalalannya jika menggunakan darah manusia untuk serum albumin?
hal ini memang perlu ditelaah lebih lanjut, karena menurut saya bisa saja ikan gabus menghasilkan albumin, namun dalam jumlah sedikit. Atau bisa saja daging ikan gabus hanya jadi prekusor albumin, jika dianalogikan dengan cahaya matahari yang membuat provitamin D yang ada didalam tubuh menjadi vitamin D.
berdasarkah hal tersebut, bermula dari seminar dan diskusi, saya sepakat dengan sensei jepang tersebut. Saya menduga bahwa ikan gabus hanya sebagai prekusor albumin yang memang albumi sudah banyak dalam tubuh manusia melalui nutris lain seperti putih telor dan bahan baku lainnya.
memang harus ada penelitian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan ini, hal ini kedepannya akan sangat penting mengingat, serum albumin yang banyak berasal dari darah harus kita tuntaskan pencarian alternatifnya, karena selama ini yang kita tau darah dari manusia jelas diharamkan dan tidak dapat digunakan sebagai obat.
Selasa, 08 Mei 2018
Minggu, 01 April 2018
Isu dan Ingatan Jangka Pendek; setelah itu?
Isu merupakan suatu hal yang sudah tidak aneh lagi di era saat ini. Kita sepakat bahwa saat ini media -media menjadi corong terdepan dalam mendapatkan pemberitaan. Masyarakat semakin mudah mengakses dan mengetahui apa saja yang dibincangkan, dari hari ke hari, dari jam ke jam, hingga dari menit ke menit, bahkan bisa saja dari detik ke detik. Kemajuan teknologi memang membuat dinamika kehidupan berubah drastis, semua lebih terang benderang dengan kemajuan teknologi, mendekatkan yang jauh, sekian detik kita bisa mengakses apapun tanpa hambtan, berkomunikasi dengan video call tanpa memandang jarak. semuanya serba gampang. namun, ibarat dua sisi mata uang perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini juga memberikan sejumlah ketegangan negatif. Apalagi terkait dengan berita berita tidak benar atau kita kenal dengan HOAX. Dahulu kita kenal dengan kabar burung hingga juga bisa isu.
Isu di negeri ini memang cepat sekali memutarbalikan ingatan masyarakat. do you know, saya selalu mengatakan bahwa negeri ini, masyarakat mudah sekali mudah termakan isu, kabar burung, dan berita negatif. setelah itu, jika tidak benar mereka melupakannya dengan cepat. Ini sama analoginya dengan anda membangun citra dikampung misalnya maju jadi kepala desa, sudah berikan semua pembinaan, bantuan, hingga membangun. Namun. nyatanya 5 tahun anda membangun citra , belum tentu anda kepilih, orang mudah lupa, apalagi kalau ada serangan fajar. heheee. Nah begitu juga isu, orang bisa gampang mudah menuduh sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya, bahkan orang yang diisukan itu bisa bisa keselamataannya membahayakan karena isu -isu yang belum tentu dia terlibat. Namun, setelah itu isu tersebut berlalu begitu saja sehingga banyak timbul kerugian-kerugian. baik kerugian materil maupun imateril.
contoh isu yang saat ini sangat membahayakan; apalagi menyangkut keilmuan saya terkait industri perikanan adalah isu adanya cacing. Jika kamu-kamu membaca banyak ulasan ilmiah, ulasan pakar, ahli pangan , ahli keamanan perikanan, pangan, dsb tentunya kamu pasti sudah tau jawabannya. Tapi di negeri ini apa yang terjadi, ? isu ini luar biasa digoreng media, dibkin framingnya menakutkan, sehingga masyarakat dibikin resah dan takut. Tahukah anda, bagaimana suatu industri perikanan dibangun, bagaimana merekrut sdmnya dan bagaimana modalnya. anda bisa baca di tulisan saya sebelumnya, bahwa membangun industri perikanan ini butuh perjuangan.
Ok, terlepas framing media yang menakutkan ditambah dengan penggorengan isunya yang luar biasa, tahukah anda disana ada orang yang menjerit? banyak karyawan yang akan dirumahkan, industri pengalengan banyak yang terancam bankrut dan merugi. Bagaimana tanggung jawab BPOM terkait ini, perlu diketahui orang yang bermain di industri ini bukan orang kemarin sore, bukan satu atau dua tahun bermain di pengalengan, sudah berpuluh-puluh tahun dan tentunya mengerti apa itu mutu, standar, regulasi, dan bahkan beberapa juga sudah tersetrifikat halal? hal ini perlu kita renungkan.
Habis ini, isu ini akan lewat begitu saja, yang rugi entah kemana harus mengadu, yang menarik entah apa langkahnya. Kamu taukan BPOM saat ini sangat lemah, bukan lemah terkadang telat dan juga teledor, jadi dari dulu kerja BPOM ini bagaimana ya? seharusnya ini jadi bahan introspeksi diri, dulu orang gak heboh dan makan barang kaleng ini biasa -biasa saja, jikalau memang bermasalah mungkin dari dahulu orang gak akan tertarik membangun industri ini.
semoga saya berharap masyarakat jangan mudah terbawa isu, cukuplah setelah ini cepat dilupakan ibarat kasus bahan penyedap dulunya yang diduga mengandung babi, atau isu-isu *ndomi* yang toh masyarakat lupa dan tetap makan.
semoga kasus ini cepat lewat, dan industri pengalengan bangkit dan kepercayaan masyarakat bangkit kembali...
ustad somad di Indonesia Damai hari ini said " Tabayun dalam menerima Informasi sangat Penting, dan orang sering lupa"
1 april 2018
Isu di negeri ini memang cepat sekali memutarbalikan ingatan masyarakat. do you know, saya selalu mengatakan bahwa negeri ini, masyarakat mudah sekali mudah termakan isu, kabar burung, dan berita negatif. setelah itu, jika tidak benar mereka melupakannya dengan cepat. Ini sama analoginya dengan anda membangun citra dikampung misalnya maju jadi kepala desa, sudah berikan semua pembinaan, bantuan, hingga membangun. Namun. nyatanya 5 tahun anda membangun citra , belum tentu anda kepilih, orang mudah lupa, apalagi kalau ada serangan fajar. heheee. Nah begitu juga isu, orang bisa gampang mudah menuduh sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya, bahkan orang yang diisukan itu bisa bisa keselamataannya membahayakan karena isu -isu yang belum tentu dia terlibat. Namun, setelah itu isu tersebut berlalu begitu saja sehingga banyak timbul kerugian-kerugian. baik kerugian materil maupun imateril.
contoh isu yang saat ini sangat membahayakan; apalagi menyangkut keilmuan saya terkait industri perikanan adalah isu adanya cacing. Jika kamu-kamu membaca banyak ulasan ilmiah, ulasan pakar, ahli pangan , ahli keamanan perikanan, pangan, dsb tentunya kamu pasti sudah tau jawabannya. Tapi di negeri ini apa yang terjadi, ? isu ini luar biasa digoreng media, dibkin framingnya menakutkan, sehingga masyarakat dibikin resah dan takut. Tahukah anda, bagaimana suatu industri perikanan dibangun, bagaimana merekrut sdmnya dan bagaimana modalnya. anda bisa baca di tulisan saya sebelumnya, bahwa membangun industri perikanan ini butuh perjuangan.
Ok, terlepas framing media yang menakutkan ditambah dengan penggorengan isunya yang luar biasa, tahukah anda disana ada orang yang menjerit? banyak karyawan yang akan dirumahkan, industri pengalengan banyak yang terancam bankrut dan merugi. Bagaimana tanggung jawab BPOM terkait ini, perlu diketahui orang yang bermain di industri ini bukan orang kemarin sore, bukan satu atau dua tahun bermain di pengalengan, sudah berpuluh-puluh tahun dan tentunya mengerti apa itu mutu, standar, regulasi, dan bahkan beberapa juga sudah tersetrifikat halal? hal ini perlu kita renungkan.
Habis ini, isu ini akan lewat begitu saja, yang rugi entah kemana harus mengadu, yang menarik entah apa langkahnya. Kamu taukan BPOM saat ini sangat lemah, bukan lemah terkadang telat dan juga teledor, jadi dari dulu kerja BPOM ini bagaimana ya? seharusnya ini jadi bahan introspeksi diri, dulu orang gak heboh dan makan barang kaleng ini biasa -biasa saja, jikalau memang bermasalah mungkin dari dahulu orang gak akan tertarik membangun industri ini.
semoga saya berharap masyarakat jangan mudah terbawa isu, cukuplah setelah ini cepat dilupakan ibarat kasus bahan penyedap dulunya yang diduga mengandung babi, atau isu-isu *ndomi* yang toh masyarakat lupa dan tetap makan.
semoga kasus ini cepat lewat, dan industri pengalengan bangkit dan kepercayaan masyarakat bangkit kembali...
ustad somad di Indonesia Damai hari ini said " Tabayun dalam menerima Informasi sangat Penting, dan orang sering lupa"
1 april 2018
Selasa, 27 Maret 2018
Membangun Industri Perikanan
Sabtu kemarin, saya memanfaatkan momen untuk kembali ke kampus untuk menghadiri orasi guru besar dosen saya Prof. Tati. Saya mengajak istri saya sekaligus untuk melihat-lihat kembali kampus yang beberapa tahun ini sudah saya mulai jarang saya kunjungi. yah, kembali melihat napak tilas berjuang di kampus yang konon katanya "masuknya gampang, Keluarnya susah".. hehehe
Orasi yang dibawakan beliau adalah mengenai pepton. ingatan saya kembali kepada waktu saya setelah lulus, beliau menugaskan saya untuk menjadi instruktur untuk pelatihan pepton. sejujurnya, waktu itu bukan saya banget, karena jarang bermain dengan hidrolisat dan protein. makanya, ketika saya ditugaskan maka saya berusaha untuk memahami secara cepat dengan dibantu juga dengan mahasiswa beliau yang juga sedang penelitian mengenai pepton. Pepton ini nama yang unik, tapi kalau berbicara industri ini kita bukan lagi berbicara rupiah, tetapi sudah dollar. Begitu diceritakan beliau, saya sangat yakin orang akan banyak mencari beliau, karena bahan baku yang digunakan hanya limbah hasil perikanan bukan ikan segar yang biasa diproduksi oleh negara luar. Dulu, konon katanya ada orang China yang datang ke beliau untuk mengajak bersama-sama membangun industri pepton. Akan tetapi, karena tidak sesuai dengan berbagai hal dan hanya menguntungkan salah satu pihak, akhirnya batal terlaksana. Dalam orasi ini, beliau sangat menekankan untuk membangun industri pepton dalam negeri.
Tidak hanya pepton ternyata, dalam orasi prof sugeng yang juga guru saya, beliau juga mengeluhkan belum adanya industri minyak ikan di Indonesia. Bahan bakunya ada, berbagai macam, kalau diluar hanya ikannya itu-itu saja. tetapi, justru kita malah impor minyak ikan. celakanya lagi, minyak ikan yang masuk ke indonesia ternyata hanya mengandung sedikit omega 3 (dibawah 5%) yang bisa disebut minyak sampah atau minyak nano-nano. hal ini sangat merugikan konsumen kita. belum lagi industri rumput laut, yang sampai hari ini juga tidak berkembang di indonesia. banyak pakar dan ahli rumput laut yang ditantang untuk membangun industrinya di indonesia, bahkan dahlan iskan waktu itu memberikan hadiah bmw jika ada yang berhasil membangun industri rumput laut dari hulu ke hilir. dahlan iskan, mencemaskan bagaimana rumput laut yang melimpah di ekspor dalam bentuk mentah yang harganya sungguh rendah. Terakhir, Industri Surimi juga bangkrut di Indonesia, ditambah lagi dengan dilarangnya cantrang otomatis industrialisasi perikanan di Indonesia jalan ditempat.
Lalu, apa masalahnya?
sejauh ini, jika bermain dengan perikanan yang bahan bakunya berasal dari alam tentunya juga bermasalah dengan stok bahan baku. bahan baku yang ada juga sangat memiliki karakteristik yang berbeda beda. di wilayah A bisa menghasilkan rumput laut yang bagus, dengan spesies yang sama di wilayah B karakteristiknya belum tentu sama (standardisasi bahan baku). Belum lagi, masalah infrastuktur dan juga modal yang biasanya juga menjadi kendala. perusahaan pengolahan terkenal dan modern, bahkan butuh waktu 5-6 tahun untuk balik modal dan mendapatkan keuntungan. disamping itu, yang bermain di industri perikanan banyak didominasi oleh para para UMKM dan UKM yang tidak punya modal banyak dan SDM nya terbatas.
Lalu bagaimana solusinya?
Sejauh ini, praktis model tripel helix menjadi jawaban general atas permasalahan ini. industri perikanan saat ini saat ini membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, akademisi, dan mungkin saat ini juga bisa melibatkan komunitas. era zaman now, yang penuh ketidakpastian ini tentunya tidak bisa lagi bermain sendiri. swasta sendiri, pemerintah sendiri, dan akademisi bergerak sendiri. dibutuhkan sinergi yang harmoni. Pemerintah berusaha mencara benefit, swasta mencari profit, dan akademisi membantu memberikan kajian agar bisa diterapkan dengan skala industri baik dari segi teknologi dan keilmuan. hal ini tentunya juga bisa dilakukan untuk membangkitkan industri perikanan. bayangkan, jika pemerintah melarang cantrang, industri surimi mengalami pesakitan, begitu juga dengan aturan lainnya seperti impor bahan baku atau bahan baku kosong yang juga berimplikasi dengan proses produksi perusahaan, bayangkan pemerintah juga tidak menyokong akademisi untuk bisa riset membuat standardisasi bahan baku yang diperuntukkan untuk industri, membantu merumuskan regulasi, dan membentuk karakter SDM Perikanan yang tangguh, tentunya juga tidak akan membantu dalam scale up industri.
Kita harus memulai kembali sinergi ini, dan kembali refokusing kembali program program yang bisa menumbuhkan industri, merumuskan regulasi yang sesuai dan tidak memberatkan swasta, membantu akademisi untuk pengembangan keilmuan untuk penerapan teknologi. semua ini tentunya dibutuhkan untuk Indonesia kembali berdaulat, tidak lagi impor, dan bisa membangun industri perikanan yang tangguh dan menghasilkan keuntungan sehingga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian nasional.
28 Maret 2018
Orasi yang dibawakan beliau adalah mengenai pepton. ingatan saya kembali kepada waktu saya setelah lulus, beliau menugaskan saya untuk menjadi instruktur untuk pelatihan pepton. sejujurnya, waktu itu bukan saya banget, karena jarang bermain dengan hidrolisat dan protein. makanya, ketika saya ditugaskan maka saya berusaha untuk memahami secara cepat dengan dibantu juga dengan mahasiswa beliau yang juga sedang penelitian mengenai pepton. Pepton ini nama yang unik, tapi kalau berbicara industri ini kita bukan lagi berbicara rupiah, tetapi sudah dollar. Begitu diceritakan beliau, saya sangat yakin orang akan banyak mencari beliau, karena bahan baku yang digunakan hanya limbah hasil perikanan bukan ikan segar yang biasa diproduksi oleh negara luar. Dulu, konon katanya ada orang China yang datang ke beliau untuk mengajak bersama-sama membangun industri pepton. Akan tetapi, karena tidak sesuai dengan berbagai hal dan hanya menguntungkan salah satu pihak, akhirnya batal terlaksana. Dalam orasi ini, beliau sangat menekankan untuk membangun industri pepton dalam negeri.
Tidak hanya pepton ternyata, dalam orasi prof sugeng yang juga guru saya, beliau juga mengeluhkan belum adanya industri minyak ikan di Indonesia. Bahan bakunya ada, berbagai macam, kalau diluar hanya ikannya itu-itu saja. tetapi, justru kita malah impor minyak ikan. celakanya lagi, minyak ikan yang masuk ke indonesia ternyata hanya mengandung sedikit omega 3 (dibawah 5%) yang bisa disebut minyak sampah atau minyak nano-nano. hal ini sangat merugikan konsumen kita. belum lagi industri rumput laut, yang sampai hari ini juga tidak berkembang di indonesia. banyak pakar dan ahli rumput laut yang ditantang untuk membangun industrinya di indonesia, bahkan dahlan iskan waktu itu memberikan hadiah bmw jika ada yang berhasil membangun industri rumput laut dari hulu ke hilir. dahlan iskan, mencemaskan bagaimana rumput laut yang melimpah di ekspor dalam bentuk mentah yang harganya sungguh rendah. Terakhir, Industri Surimi juga bangkrut di Indonesia, ditambah lagi dengan dilarangnya cantrang otomatis industrialisasi perikanan di Indonesia jalan ditempat.
Lalu, apa masalahnya?
sejauh ini, jika bermain dengan perikanan yang bahan bakunya berasal dari alam tentunya juga bermasalah dengan stok bahan baku. bahan baku yang ada juga sangat memiliki karakteristik yang berbeda beda. di wilayah A bisa menghasilkan rumput laut yang bagus, dengan spesies yang sama di wilayah B karakteristiknya belum tentu sama (standardisasi bahan baku). Belum lagi, masalah infrastuktur dan juga modal yang biasanya juga menjadi kendala. perusahaan pengolahan terkenal dan modern, bahkan butuh waktu 5-6 tahun untuk balik modal dan mendapatkan keuntungan. disamping itu, yang bermain di industri perikanan banyak didominasi oleh para para UMKM dan UKM yang tidak punya modal banyak dan SDM nya terbatas.
Lalu bagaimana solusinya?
Sejauh ini, praktis model tripel helix menjadi jawaban general atas permasalahan ini. industri perikanan saat ini saat ini membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, akademisi, dan mungkin saat ini juga bisa melibatkan komunitas. era zaman now, yang penuh ketidakpastian ini tentunya tidak bisa lagi bermain sendiri. swasta sendiri, pemerintah sendiri, dan akademisi bergerak sendiri. dibutuhkan sinergi yang harmoni. Pemerintah berusaha mencara benefit, swasta mencari profit, dan akademisi membantu memberikan kajian agar bisa diterapkan dengan skala industri baik dari segi teknologi dan keilmuan. hal ini tentunya juga bisa dilakukan untuk membangkitkan industri perikanan. bayangkan, jika pemerintah melarang cantrang, industri surimi mengalami pesakitan, begitu juga dengan aturan lainnya seperti impor bahan baku atau bahan baku kosong yang juga berimplikasi dengan proses produksi perusahaan, bayangkan pemerintah juga tidak menyokong akademisi untuk bisa riset membuat standardisasi bahan baku yang diperuntukkan untuk industri, membantu merumuskan regulasi, dan membentuk karakter SDM Perikanan yang tangguh, tentunya juga tidak akan membantu dalam scale up industri.
Kita harus memulai kembali sinergi ini, dan kembali refokusing kembali program program yang bisa menumbuhkan industri, merumuskan regulasi yang sesuai dan tidak memberatkan swasta, membantu akademisi untuk pengembangan keilmuan untuk penerapan teknologi. semua ini tentunya dibutuhkan untuk Indonesia kembali berdaulat, tidak lagi impor, dan bisa membangun industri perikanan yang tangguh dan menghasilkan keuntungan sehingga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian nasional.
28 Maret 2018
Revolusi Putih VS Gerakan Makan Ikan
Revolusi
Putih VS Gerakan Makan Ikan
Penulis
: Taufik Hidayat
Dosen
perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Tim
Riset Konsorsia Food Security Untirta
Wacana revolusi putih
yang dicanangkan oleh pak prabowo untuk DKI Jakarta menimbulkan banyak pro kontra.
Salah satunya datang dari menteri kesehatan dan menteri kelautan dan perikanan
yang saat ini mengkampanyekan gemar makan ikan. Revolusi putih yang ditawarkan
di jakarta dengan gerakan minum susu merupakan wacana yang dahulunya pernah
dicanangkan ketika Bung karno jadi presiden. Apakah revolusi putih ini
merupakan awalan yang bagus untuk DKI jakarta ataukah hanya menjadi formalitas
belaka, mengingatkan perekonomian bangsa saat ini lagi sulit-sulitnya.
Pondasi
pangan
Gerakan minum susu dan
juga makan ikan pada dasarnya merupakan gerasakan penjabaran dari empat sehat
lima sempurna yang jauh-jauh hari sudah dikeluarkan oleh tim ahli gizi IPB.
Konsep yang sudah lama diajarkan mulai dari sekolah dasar hingga tingkat
perguruan tinggi. Asupan gizi yang seimbang dan pola hidup sehat merupakan
upaya pemerintah untuk mengentaskan gizi buruk. Namun, diera demokrasi saat ini
pola hidup sehat dan asuapan gizi seimbang seolah-olah hilang ditelan bumi.
Kesibukan masyarakat saat ini, pola hidup yang tidak beraturan, dan sulitnya daya beli masyarakat menengah ke
bawah serta diperparah dengan jomplangnya antara si miskin dan si kaya membuat
negara ini seolah lupa bahwa pondasi pangan bangsa ini rapuh. Saat ini, banyak
beredar makanan-makanan instan yang tidak menyehatkan dan dapat menimbulkan
penyakin degeneratif. Globlisasi pangan merajalela, bahan makanan dri luar
negeri lebih dinikmati dari pada pangan pangan yang ada di negeri sendiri. Hal
ini sungguh memprihatinkan, sehingga
menurut saya gerakan minum susu dan gemar makan ikan sekalipun belum
menunjukkan efek yang signifikan bagi kesehatan dan pengentasan gizi buruk di Indonesia.
Boleh kita berbangga, ikan kita sudah
mulai menggeliat karena program ilegal
fishing, tetapi apakah ikan yang dihadirkan untuk masyarakat merupakan ikan
yang kualitasnya prima? Apakah harga ikan di Indonesia timur dan daerah jawa
sudah bisa dijangkau dayabelinya oleh masyarakat menengah kebawah? Pertanyaan ini merupakan hal-hal yang dasar
yang harus dijawab pemerintah. Bahkan hasil penelitian penulis menunjukkan
bahwa tingkat perekonomian, tingkat pendidikan masih berpengaruh pada konsumsi
ikan. Bahkan wanita dewasa yang akan melahiran generasi-generasi penerus bangsa
justru dari segi umur 19-55 tahun, hanya wanita yang menikah yang melek dan
menganggap konsumsi ikan penting. Selebihnya, mereka tidak menyukai ikan dengan
berbagai alasan. Sedangkan, untuk revolusi putih yang mencanangkan minum susu
juga menimbulkan banyak pertanyaan, apakah sapi-sapi yang ada di Indonesia
dapat mencukupi stok susu yang akan dikonsumsi masyarakat? Apakah kualitas susu
lokal lebih baik dari susu impor? Hal ini juga menjadi bahan koreksi yang harus
disiasati pemprov DKI jika ingin ngotot menggalakan revolusi putih.
Kedaulatan
mulut
Dua gerakan ini
sama-sama bagus, penjabaran dari 4 sehat 5 sempurna dengan menitik beratkan
susu dan ikan sebagai sumber nutrisi. Gerakan ini akan berhasil dimasyarakat
jika pemerintah serius membenahi sistem pangan di Indonesia. Kementerian
kesehatan harus mempunyai data-data kandungan gizi tipe bahan baku pangan yang
ada, baik sumber karbohidrat, sumber protein, sumber lemak, dan sumber serat.
Negara Inggris contohnya mereka mempunyai data kandungan gizi yang lengkap
untuk semua bahan baku. Jika ingin mengkampanyekan ikan, tentu masyarakat awam
harus tau semua informasi kandungan gizi setiap ikan yang ada di Indonesia.
Prof nurjanah dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan
informasi terkait sumber gizi pada ikan sehingga konsumsi ikan masyarakat di Indonesia
tergolong rendah. Ditambahkan juga, penulis juga sangat prihatin dengan
konsumsi ikan masyarakat indonesia yang masih tergolong kualitas secondary, sedangkan yang kualitas prima
diekspor. Harusnya jika sudah memiliki ikan yang cukup, tentunya masyarakat juga
harus menikmati ikan yang kualitas prima. Dengan data informasi ikan yang cukup
dan didukung dengan kondisi gizi ikan yang jelas serta kualitas prima tentunya
gemar makan ikan nasional ini akan berhasil. Begitu juga dengan susu, sumber
susu lokal harus diperhatikan stoknya. Pembibitan sapi-sapi berkualitas harus
digalakkan, sehingga daya beli masyarakat juga bisa meningkat dan harga bisa
terjangkau. Susu yang dikonsumsi juga harus memenuhi standar SNI dari aspek
keamanan pangan dan catatan kadaluarsa, sehingga aman dari food born desease.
Dua gerakan ini harus
ditunjang dengan kecintaan masyarakat sendiri untuk mengkonsumsi pangan lokal.
Hal ini ditunjukkan dengan kedaultan mulut bangsa Indonesia. Masyarakat harus
berani lantang untuk cinta produk lokal dan meninggalkan makanan-makanan instan
yang tidak menyehatkan dari luar negeri. Kedaulatan mulut akan menentukan gizi
yang kita konsumsi. Jika kita mengkonsumsi pangan lokal yang sumbernya jelas
bahan bakunya dan halalan toyiban
tentunya juga berkorelasi dengan kesehatan. Jika masyarakat sudah aware dengan kesehatan tentunya makanan
makanan yang tidak menyehatkan akan menyingkir dengan sendirinya.
Sebagai penutup tulisan
ini, indonesia sehat yang dicanangkan
nantinya pada tahun 2019 dalam persiapan dalam menghadapi bonus demografi harus
menitikeratkan pada kembalinya kekhasan masyarakat dalam memenuhi mulutnya
dengan pangan lokal yang menyehatkan. Gerakan revolusi putih dan gemar makan
ikan tidak hanya jadi semboyan kampanye belaka, tetapi menjadi garda terdepan
dalam menghidupkan kembali konsep pangan gizi seimbang (semboyan 4 sehat 5
sempurna) untuk indonesia berdaulat.
LINK BIO Tulisan Ilmiah
halo teman teman semua, saya ingin teman teman, rekan rekan semua, bisa melihat tulisan tulisan ilmiah saya, mudah mudahan bisa disitasi dan bermanfaat untuk rekan -rekan semua
silahkan cek link ini:
link Bio
Researchgate
terima kasih
Senin, 26 Maret 2018
Tahun 2017
Tahun 2017 merupakan tahun yang luar biasa. suka maupun duka menaungi saya dalam menempa diri untuk menjadi lebih baik. masih ingat di dalam ingatan saya ditinggal ibunda tercinta ketika saya belum menikah dan belum membanggakan beliau. beliau meninggal dengan tenang, tanpa merepotkan anak-anaknya.
Setelah satu bulan, saya kembali ke kampus dan aktif kembali mengajar. luar biasa, saya langsung dikagetkan dengan SK bahwa saya diangkat menjadi sekretaris Gugus Penjaminan Mutu di Fakultas Pertanian. kaget, karena status saya waktu itu dosen kontrak, bukan PNS yang sudah seharusnya mendapatkan jabatan itu. Awalnya saya menanyakan kepada pimpinan fakultas, dan beliau hanya tersenyum dan mengatakan selamat bekerja. saat itu, saya benar benar gak habis pikir, karena sebulan off saya tidak mengetahui perkembangan kampus. Saya juga datang ke kampus hanya modal semaangat setengah, tidak terlalu happy. Disaat itu, saya juga merenung, ini sinyal apa lagi yang diberikan Tuhan. Dengan bismillah saya terima amanah ini dengan semangat baru. Mungkin ini dibalik kesusahan saya diberikan kemudahan dan tantangan untuk bisa bersemangat dengan aktivitas lainnya. saya memulai untuk membuat rencana strategis dan merampungkan buku manual mutu yang menjadi target fakultas. Alhamdulillah, amanah ini saya selesaikan dengan terkareditasinya 3 prodi di Pertanian dengan nilai B, suatu kebanggan tempat saya bernaung nilai jurusan perikanan melonjak drastis dari c ke nilai B (327). hal ini tentunya berkat kerjasama yang luar biasa (team work) dan iklim yang kondusif dan nyaman di fakultas pertanian. Kemudian Jurnal-Jurnal di Pertanian mulai hidup kembali, Jurnal Perikanan Kelautan dan Jurnal agroekoteknologi mendapatkan indeksasi DOAJ, Meskipun belum terakreditasi DIKTI.
Bulan demi Bulan, tahun 2017 memberikan banyak tantangan. bulan september adalah bulan bulan yang menurut saya banyak tantangan sekaligus batu loncatan saya. saya melamar gadis yang saya idamkan pada tanggal 9 September, dan 19 September saya terbang ke Jepang untuk mengikuti konferensi di TUMSAT, sekaligus cari-cari sekolah yang cocok bagi saya. dan luar biasa saya juga merayakan hari milad saya di TOKYO, kota besar yang penuh tantangan, disiplin , dan semangat.
akhir tahun 2017, tepatnya bulan desember tanggal 22 di hari jumat berkah, saya menikah. Rasa haru dan bahagia, saya seolah mendapatkan kenikmatan berlipat lipat. mengalir begitu saja, bahkan saya tidak pernah membayangkan skenario hidup saya bisa begitu. ditambah lagi seminggu sebelum saya menikah, saya dinyatakan LULUS CPNS di BPPT RI. maka nikmat mana lagi yang saya dustakan ....
Dosen saya yang sudah saya anggap orang tua pernah berujar kepada saya. "fik, sesungguhnya dibalik kesusahan pasti ada kemudahan, Allah sudah janji, dan itu tercantum dalam FirmanNYA". Nasehat itu betul adanya, saya merasa lebih kuat dan siap menghadapi hidup, menjadi pemimpin bagi keluarga dan juga untuk menjadi kakak yang baik buat adik-adik saya.
refleksi kembali untuk sprit baru,
maret 2018
Setelah satu bulan, saya kembali ke kampus dan aktif kembali mengajar. luar biasa, saya langsung dikagetkan dengan SK bahwa saya diangkat menjadi sekretaris Gugus Penjaminan Mutu di Fakultas Pertanian. kaget, karena status saya waktu itu dosen kontrak, bukan PNS yang sudah seharusnya mendapatkan jabatan itu. Awalnya saya menanyakan kepada pimpinan fakultas, dan beliau hanya tersenyum dan mengatakan selamat bekerja. saat itu, saya benar benar gak habis pikir, karena sebulan off saya tidak mengetahui perkembangan kampus. Saya juga datang ke kampus hanya modal semaangat setengah, tidak terlalu happy. Disaat itu, saya juga merenung, ini sinyal apa lagi yang diberikan Tuhan. Dengan bismillah saya terima amanah ini dengan semangat baru. Mungkin ini dibalik kesusahan saya diberikan kemudahan dan tantangan untuk bisa bersemangat dengan aktivitas lainnya. saya memulai untuk membuat rencana strategis dan merampungkan buku manual mutu yang menjadi target fakultas. Alhamdulillah, amanah ini saya selesaikan dengan terkareditasinya 3 prodi di Pertanian dengan nilai B, suatu kebanggan tempat saya bernaung nilai jurusan perikanan melonjak drastis dari c ke nilai B (327). hal ini tentunya berkat kerjasama yang luar biasa (team work) dan iklim yang kondusif dan nyaman di fakultas pertanian. Kemudian Jurnal-Jurnal di Pertanian mulai hidup kembali, Jurnal Perikanan Kelautan dan Jurnal agroekoteknologi mendapatkan indeksasi DOAJ, Meskipun belum terakreditasi DIKTI.
Bulan demi Bulan, tahun 2017 memberikan banyak tantangan. bulan september adalah bulan bulan yang menurut saya banyak tantangan sekaligus batu loncatan saya. saya melamar gadis yang saya idamkan pada tanggal 9 September, dan 19 September saya terbang ke Jepang untuk mengikuti konferensi di TUMSAT, sekaligus cari-cari sekolah yang cocok bagi saya. dan luar biasa saya juga merayakan hari milad saya di TOKYO, kota besar yang penuh tantangan, disiplin , dan semangat.
akhir tahun 2017, tepatnya bulan desember tanggal 22 di hari jumat berkah, saya menikah. Rasa haru dan bahagia, saya seolah mendapatkan kenikmatan berlipat lipat. mengalir begitu saja, bahkan saya tidak pernah membayangkan skenario hidup saya bisa begitu. ditambah lagi seminggu sebelum saya menikah, saya dinyatakan LULUS CPNS di BPPT RI. maka nikmat mana lagi yang saya dustakan ....
Dosen saya yang sudah saya anggap orang tua pernah berujar kepada saya. "fik, sesungguhnya dibalik kesusahan pasti ada kemudahan, Allah sudah janji, dan itu tercantum dalam FirmanNYA". Nasehat itu betul adanya, saya merasa lebih kuat dan siap menghadapi hidup, menjadi pemimpin bagi keluarga dan juga untuk menjadi kakak yang baik buat adik-adik saya.
refleksi kembali untuk sprit baru,
maret 2018
Sabtu, 03 Juni 2017
Ramadhan ajang media kampanye
Tidak terasa saya sudah dua minggu lebih dirumah, mengurus beebrapa hal administrasi yang memang harus diselesaikan secepatnya sepeninggalan mama. Maunya rehat dulu sejenak dan biarkan untuk mengurus ini setelah lebaran saja, tetapi kami berempat beradik kakak memang merantau dan jauh dari rumah, maka saya putuskan untuk menetap di padang sehingga urusan ini selesai dan adik-adik bisa beraktivitas kembali, kekampus kuliah, ujian, dan juga bekerja.
Bolak balik keluar rumah merupakan hal yang sangat tabu bagi saya jika pulang ke padang. saya lebih senang menghabiskan waktu dirumah. bercakap-cakap dirumah sambil mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan. waktu mama masih hidup, saya lebih sering menemani mama dirumah, ngobrol ringan santai, dan sampai ketawa-ketawa. jadi, kalau pulang dirumah yang paling ditunggu mama adalah saya, karena adik-adik saya kalau ke padang sudah berhamburan kemana-mana bersama temannya.. hehee
ok kita balik ke tema yang akan saya bahas pada kesempatan ini. Bulan ramadhan sebagai media kampanye. kenapa saya bilang media kampanye?? bukannya bulan ramadhan ini bulan istimewa bagi kita orang beriman. berpuasa, mengambil ibadah sebanyak-banyaknya dibandingkan dengan bulan lainnya. nah ini uniknya di kota padang, (gak tau dengan kota lainnya). kota padang jika sudah masuk bulan ramadhan, poster baliho, spanduk bertebaran dimana mana. menampilkan foto orang sambil mengucapkan marhaban ya ramadhan. hampir disetiap sudut kota saya temukan. bahkan tak jarang merusak pemandangan kota, pohon pohon pun jadi rusak. Mereka berusaha mengenalkan diri mereka dengan selubung ucapan ucapan ramdhan untuk menarik simpati. teori ini masih menjadi andalan mereka para para politisi agar bisa mengenalkan dirinya. bahkan di tv lokal sebelum berbuka puasa banyak sekali iklan iklan dari mereka yang sebenarnya bkin saya menggelitik. apakah kota padang khususnya atau sumatera barat pada umumnya masih bisa percaya jika trik ini mampu membuat msyarakat disini bisa mengenal lebih jauh siapa anda..
jika saya tarik relevansinya, oh ternyata kota padang tahun depan akan ikut serta pada pilkada serentak, yaiut pemilihan walikota dan wakil walikota padang. owh ini ternyata.. saya menggambarkan bahwa mereka sudah memanaskan mesin untuk bisa dikenal lebih banyak melalui media ramadhan. apalagi yang merantau, dipanaskan dikit untuk bisa berkontribusi di kampung halaman, bersedia mengeluarkan uang begitu banyak untuk bisa memperkenalkan dirinya agar elektabilitasnya meningkat. saya masih ingat, kasus bang andre rosiade yang baliho luar biasa, hampir disudut kota ada. beliau aktif di jakarta sebagai pengusaha. tapi last minute hasilnya bagaimana, jadi calon pun tidak uang habis banyak, dan gak menjadi apa-apa. waktu itu 10 calon yang mendaftar baik parpol dan non parpol, tapi tak ada satupun parpol ataupun jalur independen menempatkan nama beliau. akhirnya, baliho terbuang percuma, elektabilitas pun sudah ok tidak mempengaruhi apa-apa. lalu apa sebenarnya permasalahan dari kasus bang andre rosiade ini.
sebetulnya spanduk baliho yang dipasang di momen bulan ramdhan, sebenarnya tidak mempengaruhi apa-apa. karena apa, menurut saya cuma satu ingatan masyarakat kita ini pendek. jika anda maju menjadi calon, kemudian memanfaatkan momen momen ramadhan, pasang baliho spanduk, melalui radio, safari ramadhan itu tidak mempengaruhi cara pandang masyarakat kita. karena, pendidikan politik di indonesia tidak secara komperhensif mengajarkan bahwasanya pesta demokrasi di indoensia itu berjalan sesuai dengan kompetitif, track record, dan ide/gagasan yang ditawarkan.
banyak kasus yang terjadi. kita ambil contoh sifulan maju sebagai gubernur A, dia sudah melaksanakan berbagai program, bangun kampung, mesjid selama lima tahun. ketika hari pemilihannya, kalah sama dengan orang yang meberikan uang 50.000.. hehee. nah ini membuktikan bahwa sejauh apapun membuat suatu program ide, akan kalah dengan serangan fajar. maka saya bilang bahwa ingatan masyarakat kita ini pendek, apa yang anda lakukan dalam jangka setahun yang lalu atau dari lima tahun yang lalu juga tidak memberikan efek positif bagi terpilihnya anda sebagai gubernur, bupati,walikota,dsbagainya.
oleh karena itu saya sebenarnya agak ketawa dengan banyak baliho yang ada, poster yang bertebaran, dan cara mengenalkan diri di tv lokal. bahkan saya bisa menebang di kota padang ini, yang maju nanti pasti orangnya itu -itu saja. tidak akan muncul nama nama baru, walaupun banyak spanduknya dimana-mana yang jelas bagi saya itu hanya membuang duit saja. lebih baik di bulan ramadhan ini banyak infak sedekah, lebih berbobot nilainya jika menghabiskan duit untuk reklame, poster, baliho yang ujung-ujungnya tidak dicalonkan, dicalonkan tapi kalah :)
Bolak balik keluar rumah merupakan hal yang sangat tabu bagi saya jika pulang ke padang. saya lebih senang menghabiskan waktu dirumah. bercakap-cakap dirumah sambil mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan. waktu mama masih hidup, saya lebih sering menemani mama dirumah, ngobrol ringan santai, dan sampai ketawa-ketawa. jadi, kalau pulang dirumah yang paling ditunggu mama adalah saya, karena adik-adik saya kalau ke padang sudah berhamburan kemana-mana bersama temannya.. hehee
ok kita balik ke tema yang akan saya bahas pada kesempatan ini. Bulan ramadhan sebagai media kampanye. kenapa saya bilang media kampanye?? bukannya bulan ramadhan ini bulan istimewa bagi kita orang beriman. berpuasa, mengambil ibadah sebanyak-banyaknya dibandingkan dengan bulan lainnya. nah ini uniknya di kota padang, (gak tau dengan kota lainnya). kota padang jika sudah masuk bulan ramadhan, poster baliho, spanduk bertebaran dimana mana. menampilkan foto orang sambil mengucapkan marhaban ya ramadhan. hampir disetiap sudut kota saya temukan. bahkan tak jarang merusak pemandangan kota, pohon pohon pun jadi rusak. Mereka berusaha mengenalkan diri mereka dengan selubung ucapan ucapan ramdhan untuk menarik simpati. teori ini masih menjadi andalan mereka para para politisi agar bisa mengenalkan dirinya. bahkan di tv lokal sebelum berbuka puasa banyak sekali iklan iklan dari mereka yang sebenarnya bkin saya menggelitik. apakah kota padang khususnya atau sumatera barat pada umumnya masih bisa percaya jika trik ini mampu membuat msyarakat disini bisa mengenal lebih jauh siapa anda..
jika saya tarik relevansinya, oh ternyata kota padang tahun depan akan ikut serta pada pilkada serentak, yaiut pemilihan walikota dan wakil walikota padang. owh ini ternyata.. saya menggambarkan bahwa mereka sudah memanaskan mesin untuk bisa dikenal lebih banyak melalui media ramadhan. apalagi yang merantau, dipanaskan dikit untuk bisa berkontribusi di kampung halaman, bersedia mengeluarkan uang begitu banyak untuk bisa memperkenalkan dirinya agar elektabilitasnya meningkat. saya masih ingat, kasus bang andre rosiade yang baliho luar biasa, hampir disudut kota ada. beliau aktif di jakarta sebagai pengusaha. tapi last minute hasilnya bagaimana, jadi calon pun tidak uang habis banyak, dan gak menjadi apa-apa. waktu itu 10 calon yang mendaftar baik parpol dan non parpol, tapi tak ada satupun parpol ataupun jalur independen menempatkan nama beliau. akhirnya, baliho terbuang percuma, elektabilitas pun sudah ok tidak mempengaruhi apa-apa. lalu apa sebenarnya permasalahan dari kasus bang andre rosiade ini.
sebetulnya spanduk baliho yang dipasang di momen bulan ramdhan, sebenarnya tidak mempengaruhi apa-apa. karena apa, menurut saya cuma satu ingatan masyarakat kita ini pendek. jika anda maju menjadi calon, kemudian memanfaatkan momen momen ramadhan, pasang baliho spanduk, melalui radio, safari ramadhan itu tidak mempengaruhi cara pandang masyarakat kita. karena, pendidikan politik di indonesia tidak secara komperhensif mengajarkan bahwasanya pesta demokrasi di indoensia itu berjalan sesuai dengan kompetitif, track record, dan ide/gagasan yang ditawarkan.
banyak kasus yang terjadi. kita ambil contoh sifulan maju sebagai gubernur A, dia sudah melaksanakan berbagai program, bangun kampung, mesjid selama lima tahun. ketika hari pemilihannya, kalah sama dengan orang yang meberikan uang 50.000.. hehee. nah ini membuktikan bahwa sejauh apapun membuat suatu program ide, akan kalah dengan serangan fajar. maka saya bilang bahwa ingatan masyarakat kita ini pendek, apa yang anda lakukan dalam jangka setahun yang lalu atau dari lima tahun yang lalu juga tidak memberikan efek positif bagi terpilihnya anda sebagai gubernur, bupati,walikota,dsbagainya.
oleh karena itu saya sebenarnya agak ketawa dengan banyak baliho yang ada, poster yang bertebaran, dan cara mengenalkan diri di tv lokal. bahkan saya bisa menebang di kota padang ini, yang maju nanti pasti orangnya itu -itu saja. tidak akan muncul nama nama baru, walaupun banyak spanduknya dimana-mana yang jelas bagi saya itu hanya membuang duit saja. lebih baik di bulan ramadhan ini banyak infak sedekah, lebih berbobot nilainya jika menghabiskan duit untuk reklame, poster, baliho yang ujung-ujungnya tidak dicalonkan, dicalonkan tapi kalah :)
Langganan:
Postingan (Atom)
