Selain bumbu dapur, bumbu olahan seperti saus tiram kerap digunakan
untuk menambah cita rasa sebuah masakan. Rasanya yang gurih serta
memiliki aroma yang khas membuat saus berbahan kerang tiram ini sering
dijadikan bahan utama dalam pembuatan olahan seafood.
Meski
menjadi salah satu bumbu dapur esensial, namun tahukah kamu bahwa kerang
tiram yang digunakan dalam membuat saus tiram berasal dari hasil impor
luar negeri. Alasan inilah yang menyebabkan harga saus tiram mahal.
Padahal,
menurut para peneliti IPB (Institut Pertanian Bogor), permintaan akan
saus tiram di Indonesia sangat tinggi. Karenanya, untuk memaksimalkan
produksi saus tiram dengan harga yang terjangkau, para peneliti IPB
memanfaatkan kerang bulu sebagai bahan baku utama dari pembuatan saus
tiram.
Berdasarkan rilis yang diterima kumparan (kumparan.com) dari
IPB (14/2), tiga orang dosen dari Departemen Teknologi Hasil Perairan
(FPIK) IPB yang terdiri dari Dr Asadatun Abdullah, Prof. Nurjanah dan
Taufik Hidayat, SPi.MSi berhasil memanfaatkan kerang bulu untuk bahan
baku alternatif saus tiram.
"Karena saya melihat harga saus tiram
yang mahal, saya pun akhirnya tertarik untuk mengambil jenis kerang
yang ekonomis dengan harga rendah. Kerang bulu ini kami substitusikan
pada bahan baku untuk menggantikan tiram," terang Taufik.
Alasan
dipilihnya kerang bulu sebagai pengganti kerang tiram dikarenakan
produksi kerang bulu di Indonesia sangat melimpah. Bahkan, produksinya
bisa menyaingi kerang dara yang lebih populer di Tanah Air.
Kerang
bulu memiliki nilai jual yang jauh lebih murah dibandingkan kerang
tiram. Meski murah, nilai gizi kerang bulu tidak bisa dianggap remeh.
Hasil
penelitian yang dilakukan oleh para dosen FPIK di IPB menjelaskan bahwa
kerang bulu memiliki kandungan asam amino glutamat, asam lemak omega 3,
dan omega 6 yang tinggi.
Asam glutamat yang tinggi akan menciptakan rasa umami pada makanan
sehingga terasa lebih lezat dan gurih. Selain itu senyawa pemberi rasa
gurih ini juga berperan penting untuk meningkatkan sekresi saliva yang
dapat meningkatkan kesehatan mulut.
Dengan banyaknya manfaat yang
dibawa oleh kerang dara, IPB optimis bahwa inovasi yang mereka lakukan
akan menambah sumber makanan masa depan. Juga diharapkan bahwa
alternatif ini dapat memenuhi permintaan produk saus tiram yang
berkualitas dengan harga terjangkau.
"Ke depannya terus dilakukan
eksplorasi bahan baku hasil perairan yang lainnya, apalagi jenis kerang
dan potensinya yang besar. Harapannya potensi ini bisa dimanfaatkan
sebagai sumber pangan masa depan," tutup Taufik.
Artikel Asli
https://today.line.me/id/pc/article/Penliti+IPB+Ciptakan+Alternatif+Saus+Tiram+Berbahan+Kerang+Bulu-oJ9MYN
Rabu, 09 Mei 2018
Beras Langka, Peneliti IPB Ubah Buah Lindur Jadi Beras Alternatif
JAKARTA – Sebagai makanan pokok, konsumsi beras di
Indonesia mencapai sekira 139,5 kg per orang dalam satu tahun. Tingginya
permintaan membuat pasokan beras menjadi masalah utama terutama ketika
swasembada tidak dapat dipertahankan.
Beberapa inovasi pernah dilakukan dengan menciptakan beras analog terbuat dari singkong, sagu, daluga umbi, dan sorgum. Menyempurnakan penelitian tersebut, peneliti dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perairan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Nurjanah MS bersama rekan mahasiswanya, Taufik Hidayat dan Pipih Suptijah mengembangkan beras analog dari buah lindur (bruguiera gymnorrhiza lamk) yang digabungkan dengan sagu atau tepung kitosan.
“Beras analog merupakan makanan fungsional dengan indeks glikemik rendah, mengandung antioksidan, hipokolesterolemik, efek anti-proliferatif terhadap sel kanker, dan pencegah kegiatan kemo," jelas Taufik, seperti dilansir dari laman IPB, Senin (22/1/2017).
(Baca juga: Presiden Jokowi: Revolusi 4.0 Jadi Tantangan Kedepan)
Menurutnya, buah lindur mengandung antinutrien, yaitu tanin dan sianida hidrogen (HCN) yang perlu dikurangi konsentrasinya sebelum digunakan. Kombinasi buah lindur dengan sagu merupakan usaha lain untuk menggunakan sumber makanan lokal sebagai upaya penguatan pangan nasional melalui swasembada dan kedaulatan pangan. Selain itu, kitosan juga ditambahkan sebagai pengikat dan stabilizer.
“Kitosan dibuat dengan merawat kerang chitin udang dan krustasea lainnya dengan zat alkalin, seperti sodium hidroksida. Ia memiliki sifat yang sama dengan bahan tekstur sintesis yang meningkatkan penampilan dan tekstur suatu produk karena memiliki penahan air yang kuat dan minyak yang kuat dan tahan panas,” imbuhnya.
Mereka menyimpulkan, buah lindur dapat dijadikan alternatif sebab mengandung karbohidrat tinggi, yakni 86,10 %. Sedangkan, formulasi nasi analog terbaik adalah kombinasi 70% tepung lindur, 30% tepung sagu, dan 0,6% kitosan.
https://news.okezone.com/read/2018/01/22/65/1848572/beras-langka-peneliti-ipb-ubah-buah-lindur-jadi-beras-alternatif
Beberapa inovasi pernah dilakukan dengan menciptakan beras analog terbuat dari singkong, sagu, daluga umbi, dan sorgum. Menyempurnakan penelitian tersebut, peneliti dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perairan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Nurjanah MS bersama rekan mahasiswanya, Taufik Hidayat dan Pipih Suptijah mengembangkan beras analog dari buah lindur (bruguiera gymnorrhiza lamk) yang digabungkan dengan sagu atau tepung kitosan.
“Beras analog merupakan makanan fungsional dengan indeks glikemik rendah, mengandung antioksidan, hipokolesterolemik, efek anti-proliferatif terhadap sel kanker, dan pencegah kegiatan kemo," jelas Taufik, seperti dilansir dari laman IPB, Senin (22/1/2017).
(Baca juga: Presiden Jokowi: Revolusi 4.0 Jadi Tantangan Kedepan)
Menurutnya, buah lindur mengandung antinutrien, yaitu tanin dan sianida hidrogen (HCN) yang perlu dikurangi konsentrasinya sebelum digunakan. Kombinasi buah lindur dengan sagu merupakan usaha lain untuk menggunakan sumber makanan lokal sebagai upaya penguatan pangan nasional melalui swasembada dan kedaulatan pangan. Selain itu, kitosan juga ditambahkan sebagai pengikat dan stabilizer.
“Kitosan dibuat dengan merawat kerang chitin udang dan krustasea lainnya dengan zat alkalin, seperti sodium hidroksida. Ia memiliki sifat yang sama dengan bahan tekstur sintesis yang meningkatkan penampilan dan tekstur suatu produk karena memiliki penahan air yang kuat dan minyak yang kuat dan tahan panas,” imbuhnya.
Mereka menyimpulkan, buah lindur dapat dijadikan alternatif sebab mengandung karbohidrat tinggi, yakni 86,10 %. Sedangkan, formulasi nasi analog terbaik adalah kombinasi 70% tepung lindur, 30% tepung sagu, dan 0,6% kitosan.
https://news.okezone.com/read/2018/01/22/65/1848572/beras-langka-peneliti-ipb-ubah-buah-lindur-jadi-beras-alternatif
Beras Nelayan dari Tanaman Pesisir Rekayasa IPB
Atas kreativitas Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam aneka ragam olahan pertanian, kini masyarakat pesisir punya beras yang diolah dari tanaman sekitar pesisir, seperti sagu dan lindur (mangrove).
Kebutuhan masyarakat Indonesia akan beras selalu meningkat, padahal banyak tanaman-tanaman lokal yang bisa diolah untuk diversifikasi pangan. “Lidah dan perut masyarakat sudah terbiasa dengan nasi yang dibuat dari beras,” ungkap Dosen Teknologi Hasil Perairan Institut Pertanian Bogor, Prof. Nurjanah.
Salah satu jalan keluarnya adalah mengolah tanaman lokal tersebut menjadi beras analog (beras buatan). “Beras ini berupa beras tiruan yang terbuat dari sumber karbohidrat lain selain padi dan tepung terigu. Bahan baku yang biasa digunakan untuk pembuatan beras analog ini di antaranya singkong, sagu, jagung, umbi-umbian, dan lainnya. Nah, masyarakat pesisir kita yang dulunya makan sagu dan lindur (mangrove) bisa diarahkan untuk mengolahnya menjadi beras,” papar Prof. Nurjanah.
Selain lindur, tanaman sagu memiliki potensi terbaik untuk menjadi makanan pengganti nasi/beras. Kandungan kalori pati sagu setiap 100 g ternyata tidak kalah dibandingkan dengan kandungan kalori bahan pangan lainnya. Perbandingan kandungan kalori berbagai sumber pati adalah (dalam 100 g): jagung 361 Kalori, beras giling 360 kalori, ubi kayu 195 kalori, ubi jalar 143 kalori dan sagu 353 kalori.
“Pohon sagu banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia, terutama di Indonesia bagian timur dan masih tumbuh secara liar, Pemanfaatan sagu sebagai bahan pangan tradisional sudah sejak lama dikenal oleh penduduk di daerah penghasil sagu, baik di Indonesia maupun di luar negeri, misalnya Papua Nugini dan Malaysia,” jelas Mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB Taufik Hidayat.
Pembuatan beras analog berbahan sagu dan lindur hampir serupa dengan pembuatan beras analog dari sumber karbohidrat lainnya yakni menggunakan sistem ekstruksi. “Bahan pangan akan dimasak kemudian dicetak menyerupai beras. Proses pembentukan menghasilkan grain yang mentah, berwarna opaque dan lebih mudah membedakan dari beras regular,” cerita Taufik.
Untuk bahan sagu dan lindur, bisa ditambahkan dengan bahan pengikat dan penstabil alami yaitu kitosan. "Kitosan merupakan turunan polisakarida yang berasal dari limbah udang,” tutur Taufik.
http://m.tabloidsinartani.com/index.php?id=148&tx_ttnews%5Btt_news%5D=3718&cHash=f3be64eac8f58a309f6743d13fd28955
Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
BANGKAPOS.COM--Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), salah satu ikan laut Indonesia yang sering dikonsumsi dengan berbagai metode pengolahan.
Penggorengan merupakan metode yang sangat disukai di Indonesia karena menghasilkan rasa yang khas termasuk pada ikan kembung.
Akan tetapi belum ada informasi metode penggorengan dapat merubah kandungan vitamin dan mineral ikan kembung.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
Penggorengan merupakan metode yang sangat disukai di Indonesia karena menghasilkan rasa yang khas termasuk pada ikan kembung.
Akan tetapi belum ada informasi metode penggorengan dapat merubah kandungan vitamin dan mineral ikan kembung.
leh karenanya empat orang peneliti dari
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor ( FPIK IPB), Nurjanah, Mala Nurilmala, Reza Febriyansyah dan Taufik Hidayat mencoba meneliti hal tersebut.
Tujuan penelitian ini menentukan pengaruh yang terjadi pada kandungan vitamin A, B12, dan mineral ikan kembung (Ca, Na, K, Fe, Zn, dan Se) setelah digoreng dalam deep fryer.
Ikan kembung yang digunakan adalah ikan kembung lelaki yang diperoleh dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada September 2013 di tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu.
Sampel dimasukkan dalam cool box dengan diberi es curai untuk menjaga kesegaran selama proses transportasi.
Sampel dipreparasi hingga menghasilkan fillet dengan rata-rata panjang 8,5 centimeter, lebar 2,5 centimeter, dan tebal 0,8 centimeter ketika sampai di laboratorium.
Dalam proses penggorengan digunakan minyak goreng sebanyak 4 liter.
Daging ikan kembung digoreng selama 5 menit pada suhu 180 derajat Liter menggunakan deep fryer.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
Tujuan penelitian ini menentukan pengaruh yang terjadi pada kandungan vitamin A, B12, dan mineral ikan kembung (Ca, Na, K, Fe, Zn, dan Se) setelah digoreng dalam deep fryer.
Ikan kembung yang digunakan adalah ikan kembung lelaki yang diperoleh dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada September 2013 di tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu.
Sampel dimasukkan dalam cool box dengan diberi es curai untuk menjaga kesegaran selama proses transportasi.
Sampel dipreparasi hingga menghasilkan fillet dengan rata-rata panjang 8,5 centimeter, lebar 2,5 centimeter, dan tebal 0,8 centimeter ketika sampai di laboratorium.
Dalam proses penggorengan digunakan minyak goreng sebanyak 4 liter.
Daging ikan kembung digoreng selama 5 menit pada suhu 180 derajat Liter menggunakan deep fryer.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa metode
penggorengan deep frying berpengaruh nyata terhadap vitamin A,
sedangkan vitamin B12 menurun secara signifikan.
Mineral Ca (Kalsium) meningkat secara signifikan, sedangkan Na (Natrium) dan K (Kalium) menurun secara signifikan setelah proses penggorengan.
Mineral Fe (Besi) dan Zn (Seng) tidak berubah secara signifikan. Selenium memiliki kandungan dibawah limit deteksi.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini?page=2.
Editor: khamelia
Mineral Ca (Kalsium) meningkat secara signifikan, sedangkan Na (Natrium) dan K (Kalium) menurun secara signifikan setelah proses penggorengan.
Mineral Fe (Besi) dan Zn (Seng) tidak berubah secara signifikan. Selenium memiliki kandungan dibawah limit deteksi.
“Proses penggorengan tersebut menyebabkan
terjadinya perubahan komposisi baik pada kadar vitamin maupun mineral.
Vitamin A meningkat sebesar 325,45 persen sedangkan vitamin B12 menurun
sebesar 55,32 persen. Mineral kalsium meningkat sebesar 114,36 persen,
sedangkan natrium dan kalium menurun sebesar 28,35 persen dan 18 persen.
Mineral besi dan seng tidak mengalami perubahan yang nyata,” tutur
Nurjanah.
Ia menambahkan bahwa terjadinya peningkatan unsur Kalsium (Ca) dan Vitamin A disebabkan karena pada proses penggorengan terjadi penurunan kadar air, sehingga secara proporsional unsur kalsium dan vitamin A mengalami peningkatan.
“Vitamin A pada ikan kembung yang digoreng bisa juga berasal dari minyak goreng yang mengandung Vitamin A,” jelasnya.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini?page=2.
Editor: khamelia
Ia menambahkan bahwa terjadinya peningkatan unsur Kalsium (Ca) dan Vitamin A disebabkan karena pada proses penggorengan terjadi penurunan kadar air, sehingga secara proporsional unsur kalsium dan vitamin A mengalami peningkatan.
“Vitamin A pada ikan kembung yang digoreng bisa juga berasal dari minyak goreng yang mengandung Vitamin A,” jelasnya.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini?page=2.
Editor: khamelia
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini?page=2.
Editor: khamelia
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, http://bangka.tribunnews.com/2017/12/03/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.
Editor: khamelia
Selasa, 08 Mei 2018
Waktu akan Mengobati , Tak usah kau Sesali
Dalam pepatah arab kita sering mendengar waktu adalah ibarat pedang yang menghunus, kejam kelihatannya, dan juga sering sekali kita juga mendengar bahwa waktu adalah uang. sebegitunya waktu, sehingga kemahalannya tak terbeli dan sulit untuk kembali.
Waktu juga adalah proses pembelajaran, mulai dari dimensi waktu terkecil, detik, menit, jam, hari, dan hingga dimensi tertinggi. waktu juga seiringan dengan hidup sehingga dalam memaknai hidup seseorang pasti akan melihat waktu yang telah dia lalui.
Saya salah satu yang mempercayai waktu akan memberikan kegembiraan meskipun dalam hidup ini kita tidak terlepas dari resah dan gelisah, apalagi diselimuti disetiap permasalahan. Terkadang waktu jadi sasaran korban untuk disalahkan, sehingga muncul andai ini, andai begitu, jika saja waktu itu..... banyak muncul konotasi negatif, sehingga begitu kerasnya pepatah arab mengibaratkan waktu itu ibarat pedang..
dalam pengalaman hidup, saya juga merupakan salah satu yang percaya waktu merupakan salah satu cara untuk kita memahami hidup. Pernah pada tahun 2014, saya pernah menghadiri seminar di untirta serang, dan 2 tahun kemudian saya ternyata harus mencari rezeki disana. Begitu juga Tahun 2016, saya menghadiri Kongres Teknologi Nasional di Thamrin yang diselenggarakan BPPT, entah kenapa 2 tahun kemudian saya mengabdi disana. Begitulah waktu, waktu menuangkan semua memori kita untuk melihat kembali jalan hidup yang kita lalui. Semua yang kita dulu anggap sebagai memori perjalanan saja, ternyata Tuhan memang sudah menyiapkan waktu yang terbaik untuk kita, dengan siapa kita bertemu, peristiwa apa yang terjadi, semuanya berangkai, dan waktu menyempurnakan semua itu dengan kondisi yang kita tidak sadari.
waktu juga pernah menjadi penyesalan saya. Ibu saya meninggal disaat saya jauh dipangkuan beliau. dan lagi -lagi waktu mengajari saya, jika Ibu saya masih hidup mungkin ibu saya akan menderita dengan penyakit, waktu telah ditentukan untuk memang Ibu saya pergi. Dan waktu itu, saya tidak bisa mengatakan tidak siap, saya memang harus siap ditinggalkan ibu, dan meneruskan perjuangan beliau.
dan memang akhirnya waktu akan mengobati semua perjalanan, memang tidak ada harus yang kita sesali, kita semua berjuang untuk menjemput takdir, berikhitar, dan melewati waktu dengan sebaik-baiknya.
Waktu juga adalah proses pembelajaran, mulai dari dimensi waktu terkecil, detik, menit, jam, hari, dan hingga dimensi tertinggi. waktu juga seiringan dengan hidup sehingga dalam memaknai hidup seseorang pasti akan melihat waktu yang telah dia lalui.
Saya salah satu yang mempercayai waktu akan memberikan kegembiraan meskipun dalam hidup ini kita tidak terlepas dari resah dan gelisah, apalagi diselimuti disetiap permasalahan. Terkadang waktu jadi sasaran korban untuk disalahkan, sehingga muncul andai ini, andai begitu, jika saja waktu itu..... banyak muncul konotasi negatif, sehingga begitu kerasnya pepatah arab mengibaratkan waktu itu ibarat pedang..
dalam pengalaman hidup, saya juga merupakan salah satu yang percaya waktu merupakan salah satu cara untuk kita memahami hidup. Pernah pada tahun 2014, saya pernah menghadiri seminar di untirta serang, dan 2 tahun kemudian saya ternyata harus mencari rezeki disana. Begitu juga Tahun 2016, saya menghadiri Kongres Teknologi Nasional di Thamrin yang diselenggarakan BPPT, entah kenapa 2 tahun kemudian saya mengabdi disana. Begitulah waktu, waktu menuangkan semua memori kita untuk melihat kembali jalan hidup yang kita lalui. Semua yang kita dulu anggap sebagai memori perjalanan saja, ternyata Tuhan memang sudah menyiapkan waktu yang terbaik untuk kita, dengan siapa kita bertemu, peristiwa apa yang terjadi, semuanya berangkai, dan waktu menyempurnakan semua itu dengan kondisi yang kita tidak sadari.
waktu juga pernah menjadi penyesalan saya. Ibu saya meninggal disaat saya jauh dipangkuan beliau. dan lagi -lagi waktu mengajari saya, jika Ibu saya masih hidup mungkin ibu saya akan menderita dengan penyakit, waktu telah ditentukan untuk memang Ibu saya pergi. Dan waktu itu, saya tidak bisa mengatakan tidak siap, saya memang harus siap ditinggalkan ibu, dan meneruskan perjuangan beliau.
dan memang akhirnya waktu akan mengobati semua perjalanan, memang tidak ada harus yang kita sesali, kita semua berjuang untuk menjemput takdir, berikhitar, dan melewati waktu dengan sebaik-baiknya.
benarkah albumin banyak di daging ikan gabus?
pembahasan kali ini saya kaitkan dengan maraknya pemberitaan bahwa albumin ikan gabus sangat berkhasiat untuk kesehatan. banyak sekali iklan iklan yang memberitakan kapsul albumin, albumin ikan gabus dalam berbagai bentuk baik ekstrak maupun dalam bentuk sediaan. Tapi apakah betul kalau albumin banyak ditemukan pada daging ikan gabus?
Dalam sebuah seminar pada tahun 2015, saya mendengarkan presentasi yang menarik terkait ikan gabus yang mempunyai khasiat sebagai penghasil albumin yang banyak bermanfaat dalam operasi bedah, mempercebat pembentukan sel baru, dsb. Namun, saat itu moderator yang mengatur jalannya diskusi malah memberikan pandangan yang berbeda. Dia tidak yakin dengan albumin ikan gabus, beliau malah berujar " saya sering berdiskusi dengan dunia kedokteran, dan tidak ada albumin yang menjadi khasiat utama, melainkan banyak ditemukan pada asam amino terutama glutamat". Pernyataan ini cukup heboh waktu itu karena kita tau glutamat selama ini hanya sebagai pemberi rasa umami. Saya yang juga ikut ketawa pada waktu itu, masak profesor ngomongnya ngaco.
Namun diskusi itu kembali mengingatkan saya ketika saya kembali berdiskusi dengan dosen saya yang kebetulan juga lagi mengembangkan albumin dan juga molekuler. Beliau menghentikan sementara penelitian ini, karena setelah beliau juga berdiskusi dengan guru beliau di Jepang. Pertanyaan yang sama, apakah benar albumin ini dihasilkan oleh ikan gabus? yang selama ini juga banyak diteliti oleh para ilmuwan.
Beberapa waktu itu juga saya kembali teringat, kalau memang albumin banyak dari ikan gabus, kenapa tidak banyak jurnal yang spesifik yang mengatakan demikian(bahkan banyak penelitian yang BM albumin berbeda dengan BM protein daging ikan gabus), dan kenapa diluar negeri masih menggunakan serum albumin yang biasa ditemukan di plasma darah? dan bagaimana penyikapan kehalalannya jika menggunakan darah manusia untuk serum albumin?
hal ini memang perlu ditelaah lebih lanjut, karena menurut saya bisa saja ikan gabus menghasilkan albumin, namun dalam jumlah sedikit. Atau bisa saja daging ikan gabus hanya jadi prekusor albumin, jika dianalogikan dengan cahaya matahari yang membuat provitamin D yang ada didalam tubuh menjadi vitamin D.
berdasarkah hal tersebut, bermula dari seminar dan diskusi, saya sepakat dengan sensei jepang tersebut. Saya menduga bahwa ikan gabus hanya sebagai prekusor albumin yang memang albumi sudah banyak dalam tubuh manusia melalui nutris lain seperti putih telor dan bahan baku lainnya.
memang harus ada penelitian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan ini, hal ini kedepannya akan sangat penting mengingat, serum albumin yang banyak berasal dari darah harus kita tuntaskan pencarian alternatifnya, karena selama ini yang kita tau darah dari manusia jelas diharamkan dan tidak dapat digunakan sebagai obat.
Dalam sebuah seminar pada tahun 2015, saya mendengarkan presentasi yang menarik terkait ikan gabus yang mempunyai khasiat sebagai penghasil albumin yang banyak bermanfaat dalam operasi bedah, mempercebat pembentukan sel baru, dsb. Namun, saat itu moderator yang mengatur jalannya diskusi malah memberikan pandangan yang berbeda. Dia tidak yakin dengan albumin ikan gabus, beliau malah berujar " saya sering berdiskusi dengan dunia kedokteran, dan tidak ada albumin yang menjadi khasiat utama, melainkan banyak ditemukan pada asam amino terutama glutamat". Pernyataan ini cukup heboh waktu itu karena kita tau glutamat selama ini hanya sebagai pemberi rasa umami. Saya yang juga ikut ketawa pada waktu itu, masak profesor ngomongnya ngaco.
Namun diskusi itu kembali mengingatkan saya ketika saya kembali berdiskusi dengan dosen saya yang kebetulan juga lagi mengembangkan albumin dan juga molekuler. Beliau menghentikan sementara penelitian ini, karena setelah beliau juga berdiskusi dengan guru beliau di Jepang. Pertanyaan yang sama, apakah benar albumin ini dihasilkan oleh ikan gabus? yang selama ini juga banyak diteliti oleh para ilmuwan.
Beberapa waktu itu juga saya kembali teringat, kalau memang albumin banyak dari ikan gabus, kenapa tidak banyak jurnal yang spesifik yang mengatakan demikian(bahkan banyak penelitian yang BM albumin berbeda dengan BM protein daging ikan gabus), dan kenapa diluar negeri masih menggunakan serum albumin yang biasa ditemukan di plasma darah? dan bagaimana penyikapan kehalalannya jika menggunakan darah manusia untuk serum albumin?
hal ini memang perlu ditelaah lebih lanjut, karena menurut saya bisa saja ikan gabus menghasilkan albumin, namun dalam jumlah sedikit. Atau bisa saja daging ikan gabus hanya jadi prekusor albumin, jika dianalogikan dengan cahaya matahari yang membuat provitamin D yang ada didalam tubuh menjadi vitamin D.
berdasarkah hal tersebut, bermula dari seminar dan diskusi, saya sepakat dengan sensei jepang tersebut. Saya menduga bahwa ikan gabus hanya sebagai prekusor albumin yang memang albumi sudah banyak dalam tubuh manusia melalui nutris lain seperti putih telor dan bahan baku lainnya.
memang harus ada penelitian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan ini, hal ini kedepannya akan sangat penting mengingat, serum albumin yang banyak berasal dari darah harus kita tuntaskan pencarian alternatifnya, karena selama ini yang kita tau darah dari manusia jelas diharamkan dan tidak dapat digunakan sebagai obat.
Minggu, 01 April 2018
Isu dan Ingatan Jangka Pendek; setelah itu?
Isu merupakan suatu hal yang sudah tidak aneh lagi di era saat ini. Kita sepakat bahwa saat ini media -media menjadi corong terdepan dalam mendapatkan pemberitaan. Masyarakat semakin mudah mengakses dan mengetahui apa saja yang dibincangkan, dari hari ke hari, dari jam ke jam, hingga dari menit ke menit, bahkan bisa saja dari detik ke detik. Kemajuan teknologi memang membuat dinamika kehidupan berubah drastis, semua lebih terang benderang dengan kemajuan teknologi, mendekatkan yang jauh, sekian detik kita bisa mengakses apapun tanpa hambtan, berkomunikasi dengan video call tanpa memandang jarak. semuanya serba gampang. namun, ibarat dua sisi mata uang perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini juga memberikan sejumlah ketegangan negatif. Apalagi terkait dengan berita berita tidak benar atau kita kenal dengan HOAX. Dahulu kita kenal dengan kabar burung hingga juga bisa isu.
Isu di negeri ini memang cepat sekali memutarbalikan ingatan masyarakat. do you know, saya selalu mengatakan bahwa negeri ini, masyarakat mudah sekali mudah termakan isu, kabar burung, dan berita negatif. setelah itu, jika tidak benar mereka melupakannya dengan cepat. Ini sama analoginya dengan anda membangun citra dikampung misalnya maju jadi kepala desa, sudah berikan semua pembinaan, bantuan, hingga membangun. Namun. nyatanya 5 tahun anda membangun citra , belum tentu anda kepilih, orang mudah lupa, apalagi kalau ada serangan fajar. heheee. Nah begitu juga isu, orang bisa gampang mudah menuduh sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya, bahkan orang yang diisukan itu bisa bisa keselamataannya membahayakan karena isu -isu yang belum tentu dia terlibat. Namun, setelah itu isu tersebut berlalu begitu saja sehingga banyak timbul kerugian-kerugian. baik kerugian materil maupun imateril.
contoh isu yang saat ini sangat membahayakan; apalagi menyangkut keilmuan saya terkait industri perikanan adalah isu adanya cacing. Jika kamu-kamu membaca banyak ulasan ilmiah, ulasan pakar, ahli pangan , ahli keamanan perikanan, pangan, dsb tentunya kamu pasti sudah tau jawabannya. Tapi di negeri ini apa yang terjadi, ? isu ini luar biasa digoreng media, dibkin framingnya menakutkan, sehingga masyarakat dibikin resah dan takut. Tahukah anda, bagaimana suatu industri perikanan dibangun, bagaimana merekrut sdmnya dan bagaimana modalnya. anda bisa baca di tulisan saya sebelumnya, bahwa membangun industri perikanan ini butuh perjuangan.
Ok, terlepas framing media yang menakutkan ditambah dengan penggorengan isunya yang luar biasa, tahukah anda disana ada orang yang menjerit? banyak karyawan yang akan dirumahkan, industri pengalengan banyak yang terancam bankrut dan merugi. Bagaimana tanggung jawab BPOM terkait ini, perlu diketahui orang yang bermain di industri ini bukan orang kemarin sore, bukan satu atau dua tahun bermain di pengalengan, sudah berpuluh-puluh tahun dan tentunya mengerti apa itu mutu, standar, regulasi, dan bahkan beberapa juga sudah tersetrifikat halal? hal ini perlu kita renungkan.
Habis ini, isu ini akan lewat begitu saja, yang rugi entah kemana harus mengadu, yang menarik entah apa langkahnya. Kamu taukan BPOM saat ini sangat lemah, bukan lemah terkadang telat dan juga teledor, jadi dari dulu kerja BPOM ini bagaimana ya? seharusnya ini jadi bahan introspeksi diri, dulu orang gak heboh dan makan barang kaleng ini biasa -biasa saja, jikalau memang bermasalah mungkin dari dahulu orang gak akan tertarik membangun industri ini.
semoga saya berharap masyarakat jangan mudah terbawa isu, cukuplah setelah ini cepat dilupakan ibarat kasus bahan penyedap dulunya yang diduga mengandung babi, atau isu-isu *ndomi* yang toh masyarakat lupa dan tetap makan.
semoga kasus ini cepat lewat, dan industri pengalengan bangkit dan kepercayaan masyarakat bangkit kembali...
ustad somad di Indonesia Damai hari ini said " Tabayun dalam menerima Informasi sangat Penting, dan orang sering lupa"
1 april 2018
Isu di negeri ini memang cepat sekali memutarbalikan ingatan masyarakat. do you know, saya selalu mengatakan bahwa negeri ini, masyarakat mudah sekali mudah termakan isu, kabar burung, dan berita negatif. setelah itu, jika tidak benar mereka melupakannya dengan cepat. Ini sama analoginya dengan anda membangun citra dikampung misalnya maju jadi kepala desa, sudah berikan semua pembinaan, bantuan, hingga membangun. Namun. nyatanya 5 tahun anda membangun citra , belum tentu anda kepilih, orang mudah lupa, apalagi kalau ada serangan fajar. heheee. Nah begitu juga isu, orang bisa gampang mudah menuduh sesuatu yang belum tentu benar kebenarannya, bahkan orang yang diisukan itu bisa bisa keselamataannya membahayakan karena isu -isu yang belum tentu dia terlibat. Namun, setelah itu isu tersebut berlalu begitu saja sehingga banyak timbul kerugian-kerugian. baik kerugian materil maupun imateril.
contoh isu yang saat ini sangat membahayakan; apalagi menyangkut keilmuan saya terkait industri perikanan adalah isu adanya cacing. Jika kamu-kamu membaca banyak ulasan ilmiah, ulasan pakar, ahli pangan , ahli keamanan perikanan, pangan, dsb tentunya kamu pasti sudah tau jawabannya. Tapi di negeri ini apa yang terjadi, ? isu ini luar biasa digoreng media, dibkin framingnya menakutkan, sehingga masyarakat dibikin resah dan takut. Tahukah anda, bagaimana suatu industri perikanan dibangun, bagaimana merekrut sdmnya dan bagaimana modalnya. anda bisa baca di tulisan saya sebelumnya, bahwa membangun industri perikanan ini butuh perjuangan.
Ok, terlepas framing media yang menakutkan ditambah dengan penggorengan isunya yang luar biasa, tahukah anda disana ada orang yang menjerit? banyak karyawan yang akan dirumahkan, industri pengalengan banyak yang terancam bankrut dan merugi. Bagaimana tanggung jawab BPOM terkait ini, perlu diketahui orang yang bermain di industri ini bukan orang kemarin sore, bukan satu atau dua tahun bermain di pengalengan, sudah berpuluh-puluh tahun dan tentunya mengerti apa itu mutu, standar, regulasi, dan bahkan beberapa juga sudah tersetrifikat halal? hal ini perlu kita renungkan.
Habis ini, isu ini akan lewat begitu saja, yang rugi entah kemana harus mengadu, yang menarik entah apa langkahnya. Kamu taukan BPOM saat ini sangat lemah, bukan lemah terkadang telat dan juga teledor, jadi dari dulu kerja BPOM ini bagaimana ya? seharusnya ini jadi bahan introspeksi diri, dulu orang gak heboh dan makan barang kaleng ini biasa -biasa saja, jikalau memang bermasalah mungkin dari dahulu orang gak akan tertarik membangun industri ini.
semoga saya berharap masyarakat jangan mudah terbawa isu, cukuplah setelah ini cepat dilupakan ibarat kasus bahan penyedap dulunya yang diduga mengandung babi, atau isu-isu *ndomi* yang toh masyarakat lupa dan tetap makan.
semoga kasus ini cepat lewat, dan industri pengalengan bangkit dan kepercayaan masyarakat bangkit kembali...
ustad somad di Indonesia Damai hari ini said " Tabayun dalam menerima Informasi sangat Penting, dan orang sering lupa"
1 april 2018
Langganan:
Postingan (Atom)