Selasa, 27 Maret 2018

Membangun Industri Perikanan

Sabtu kemarin, saya memanfaatkan momen untuk kembali ke kampus untuk menghadiri orasi guru besar dosen saya Prof. Tati. Saya mengajak istri saya sekaligus untuk melihat-lihat kembali kampus yang beberapa tahun ini sudah saya mulai jarang saya kunjungi. yah, kembali melihat napak tilas berjuang di kampus yang konon katanya "masuknya gampang, Keluarnya susah".. hehehe

Orasi yang dibawakan beliau adalah mengenai pepton. ingatan saya kembali kepada waktu saya setelah lulus, beliau menugaskan saya untuk menjadi instruktur untuk pelatihan pepton. sejujurnya, waktu itu bukan saya banget, karena jarang bermain dengan hidrolisat dan protein. makanya, ketika saya ditugaskan maka saya berusaha untuk memahami secara cepat dengan dibantu juga dengan mahasiswa beliau yang juga sedang penelitian mengenai pepton. Pepton ini nama yang unik, tapi kalau berbicara industri ini kita bukan lagi berbicara rupiah, tetapi sudah dollar. Begitu diceritakan beliau, saya sangat yakin orang akan banyak mencari beliau, karena bahan baku yang digunakan hanya limbah hasil perikanan bukan ikan segar yang biasa diproduksi oleh negara luar. Dulu, konon katanya ada orang China yang datang ke beliau untuk mengajak bersama-sama membangun industri pepton. Akan tetapi, karena tidak sesuai dengan berbagai hal dan hanya menguntungkan salah satu pihak, akhirnya batal terlaksana. Dalam orasi ini, beliau sangat menekankan untuk membangun industri pepton dalam negeri.

Tidak hanya pepton ternyata, dalam orasi prof sugeng yang juga guru saya, beliau juga mengeluhkan belum adanya industri minyak ikan di Indonesia. Bahan bakunya ada, berbagai macam, kalau diluar hanya ikannya itu-itu saja. tetapi, justru kita malah impor minyak ikan. celakanya lagi, minyak ikan yang masuk ke indonesia ternyata hanya mengandung sedikit omega 3 (dibawah 5%) yang bisa disebut minyak sampah atau minyak nano-nano. hal ini sangat merugikan konsumen kita. belum lagi industri rumput laut, yang sampai hari ini juga tidak berkembang di indonesia. banyak pakar dan ahli rumput laut yang ditantang untuk membangun industrinya di indonesia, bahkan dahlan iskan waktu itu memberikan hadiah bmw jika ada yang berhasil membangun industri rumput laut dari hulu ke hilir. dahlan iskan, mencemaskan bagaimana rumput laut yang melimpah di ekspor dalam bentuk mentah yang harganya sungguh rendah.  Terakhir, Industri Surimi juga bangkrut di Indonesia, ditambah lagi dengan dilarangnya cantrang otomatis industrialisasi perikanan di Indonesia jalan ditempat.


Lalu, apa masalahnya?

sejauh ini, jika bermain dengan perikanan yang bahan bakunya berasal dari alam tentunya juga bermasalah dengan stok bahan baku. bahan baku yang ada juga sangat memiliki karakteristik yang berbeda beda. di wilayah A bisa menghasilkan rumput laut yang bagus, dengan spesies yang sama di wilayah B karakteristiknya belum tentu sama (standardisasi bahan baku). Belum lagi, masalah infrastuktur dan juga modal yang biasanya juga menjadi kendala. perusahaan pengolahan terkenal dan modern, bahkan butuh waktu 5-6 tahun untuk balik modal dan mendapatkan keuntungan. disamping itu, yang bermain di industri perikanan banyak didominasi oleh para para UMKM dan UKM yang tidak punya modal banyak dan SDM nya terbatas.

Lalu bagaimana solusinya?

Sejauh ini, praktis model tripel helix menjadi jawaban general atas permasalahan ini. industri perikanan saat ini saat ini membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, akademisi, dan mungkin saat ini juga bisa melibatkan komunitas. era zaman now, yang penuh ketidakpastian ini tentunya tidak bisa lagi bermain sendiri. swasta sendiri, pemerintah sendiri, dan akademisi bergerak sendiri. dibutuhkan sinergi yang harmoni. Pemerintah berusaha mencara benefit, swasta mencari profit, dan akademisi membantu memberikan kajian agar bisa diterapkan dengan skala industri baik dari segi teknologi dan keilmuan. hal ini tentunya juga bisa dilakukan untuk membangkitkan industri perikanan. bayangkan, jika pemerintah melarang cantrang, industri surimi mengalami pesakitan, begitu juga dengan aturan lainnya seperti impor bahan baku atau bahan baku kosong yang juga berimplikasi dengan  proses produksi perusahaan, bayangkan pemerintah juga tidak menyokong akademisi untuk bisa riset membuat standardisasi bahan baku yang diperuntukkan untuk industri, membantu merumuskan regulasi, dan membentuk karakter SDM Perikanan yang tangguh, tentunya juga tidak akan membantu dalam scale up industri.

Kita harus memulai kembali sinergi ini, dan kembali refokusing kembali program program yang bisa menumbuhkan industri, merumuskan regulasi yang sesuai dan tidak memberatkan swasta, membantu akademisi untuk pengembangan keilmuan untuk penerapan teknologi. semua ini tentunya dibutuhkan untuk Indonesia kembali berdaulat, tidak lagi impor, dan bisa membangun industri perikanan yang tangguh dan menghasilkan keuntungan sehingga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian nasional.


28 Maret 2018

Revolusi Putih VS Gerakan Makan Ikan


Revolusi Putih VS  Gerakan Makan Ikan
Penulis : Taufik Hidayat
Dosen perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Tim Riset Konsorsia Food Security Untirta

Wacana revolusi putih yang dicanangkan oleh pak prabowo untuk DKI Jakarta menimbulkan banyak pro kontra. Salah satunya datang dari menteri kesehatan dan menteri kelautan dan perikanan yang saat ini mengkampanyekan gemar makan ikan. Revolusi putih yang ditawarkan di jakarta dengan gerakan minum susu merupakan wacana yang dahulunya pernah dicanangkan ketika Bung karno jadi presiden. Apakah revolusi putih ini merupakan awalan yang bagus untuk DKI jakarta ataukah hanya menjadi formalitas belaka, mengingatkan perekonomian bangsa saat ini lagi sulit-sulitnya.

Pondasi pangan
Gerakan minum susu dan juga makan ikan pada dasarnya merupakan gerasakan penjabaran dari empat sehat lima sempurna yang jauh-jauh hari sudah dikeluarkan oleh tim ahli gizi IPB. Konsep yang sudah lama diajarkan mulai dari sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Asupan gizi yang seimbang dan pola hidup sehat merupakan upaya pemerintah untuk mengentaskan gizi buruk. Namun, diera demokrasi saat ini pola hidup sehat dan asuapan gizi seimbang seolah-olah hilang ditelan bumi. Kesibukan masyarakat saat ini, pola hidup yang tidak beraturan,  dan sulitnya daya beli masyarakat menengah ke bawah serta diperparah dengan jomplangnya antara si miskin dan si kaya membuat negara ini seolah lupa bahwa pondasi pangan bangsa ini rapuh. Saat ini, banyak beredar makanan-makanan instan yang tidak menyehatkan dan dapat menimbulkan penyakin degeneratif. Globlisasi pangan merajalela, bahan makanan dri luar negeri lebih dinikmati dari pada pangan pangan yang ada di negeri sendiri. Hal ini sungguh  memprihatinkan, sehingga menurut saya gerakan minum susu dan gemar makan ikan sekalipun belum menunjukkan efek yang signifikan bagi kesehatan dan pengentasan gizi buruk di Indonesia. Boleh kita berbangga, ikan kita  sudah mulai menggeliat karena program ilegal fishing, tetapi apakah ikan yang dihadirkan untuk masyarakat merupakan ikan yang kualitasnya prima? Apakah harga ikan di Indonesia timur dan daerah jawa sudah bisa dijangkau dayabelinya oleh masyarakat menengah kebawah?  Pertanyaan ini merupakan hal-hal yang dasar yang harus dijawab pemerintah. Bahkan hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa tingkat perekonomian, tingkat pendidikan masih berpengaruh pada konsumsi ikan. Bahkan wanita dewasa yang akan melahiran generasi-generasi penerus bangsa justru dari segi umur 19-55 tahun, hanya wanita yang menikah yang melek dan menganggap konsumsi ikan penting. Selebihnya, mereka tidak menyukai ikan dengan berbagai alasan. Sedangkan, untuk revolusi putih yang mencanangkan minum susu juga menimbulkan banyak pertanyaan, apakah sapi-sapi yang ada di Indonesia dapat mencukupi stok susu yang akan dikonsumsi masyarakat? Apakah kualitas susu lokal lebih baik dari susu impor? Hal ini juga menjadi bahan koreksi yang harus disiasati pemprov DKI jika ingin ngotot menggalakan revolusi putih.

Kedaulatan mulut
Dua gerakan ini sama-sama bagus, penjabaran dari 4 sehat 5 sempurna dengan menitik beratkan susu dan ikan sebagai sumber nutrisi. Gerakan ini akan berhasil dimasyarakat jika pemerintah serius membenahi sistem pangan di Indonesia. Kementerian kesehatan harus mempunyai data-data kandungan gizi tipe bahan baku pangan yang ada, baik sumber karbohidrat, sumber protein, sumber lemak, dan sumber serat. Negara Inggris contohnya mereka mempunyai data kandungan gizi yang lengkap untuk semua bahan baku. Jika ingin mengkampanyekan ikan, tentu masyarakat awam harus tau semua informasi kandungan gizi setiap ikan yang ada di Indonesia. Prof nurjanah dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan informasi terkait sumber gizi pada ikan sehingga konsumsi ikan masyarakat di Indonesia tergolong rendah. Ditambahkan juga, penulis juga sangat prihatin dengan konsumsi ikan masyarakat indonesia yang masih tergolong kualitas secondary, sedangkan yang kualitas prima diekspor. Harusnya jika sudah memiliki ikan yang cukup, tentunya masyarakat juga harus menikmati ikan yang kualitas prima. Dengan data informasi ikan yang cukup dan didukung dengan kondisi gizi ikan yang jelas serta kualitas prima tentunya gemar makan ikan nasional ini akan berhasil. Begitu juga dengan susu, sumber susu lokal harus diperhatikan stoknya. Pembibitan sapi-sapi berkualitas harus digalakkan, sehingga daya beli masyarakat juga bisa meningkat dan harga bisa terjangkau. Susu yang dikonsumsi juga harus memenuhi standar SNI dari aspek keamanan pangan dan catatan kadaluarsa, sehingga aman dari food born desease.
Dua gerakan ini harus ditunjang dengan kecintaan masyarakat sendiri untuk mengkonsumsi pangan lokal. Hal ini ditunjukkan dengan kedaultan mulut bangsa Indonesia. Masyarakat harus berani lantang untuk cinta produk lokal dan meninggalkan makanan-makanan instan yang tidak menyehatkan dari luar negeri. Kedaulatan mulut akan menentukan gizi yang kita konsumsi. Jika kita mengkonsumsi pangan lokal yang sumbernya jelas bahan bakunya dan halalan toyiban tentunya juga berkorelasi dengan kesehatan. Jika masyarakat sudah aware dengan kesehatan tentunya makanan makanan yang tidak menyehatkan akan menyingkir dengan sendirinya.
Sebagai penutup tulisan ini,  indonesia sehat yang dicanangkan nantinya pada tahun 2019 dalam persiapan dalam menghadapi bonus demografi harus menitikeratkan pada kembalinya kekhasan masyarakat dalam memenuhi mulutnya dengan pangan lokal yang menyehatkan. Gerakan revolusi putih dan gemar makan ikan tidak hanya jadi semboyan kampanye belaka, tetapi menjadi garda terdepan dalam menghidupkan kembali konsep pangan gizi seimbang (semboyan 4 sehat 5 sempurna) untuk indonesia berdaulat.

LINK BIO Tulisan Ilmiah


 halo teman teman semua, saya ingin teman teman, rekan rekan semua, bisa melihat tulisan tulisan ilmiah saya, mudah mudahan bisa disitasi dan bermanfaat untuk rekan -rekan semua




 silahkan cek link ini:

link Bio
Researchgate



terima kasih

Senin, 26 Maret 2018

Tahun 2017

Tahun 2017 merupakan tahun yang luar biasa. suka maupun duka menaungi saya dalam menempa diri untuk menjadi lebih baik. masih ingat di dalam ingatan saya ditinggal ibunda tercinta ketika saya belum menikah dan belum membanggakan beliau. beliau meninggal dengan tenang, tanpa merepotkan anak-anaknya.
Setelah satu bulan, saya kembali ke kampus dan aktif kembali mengajar. luar biasa, saya langsung dikagetkan dengan SK bahwa saya diangkat menjadi sekretaris Gugus Penjaminan Mutu di Fakultas Pertanian. kaget, karena status saya waktu itu dosen kontrak, bukan PNS yang sudah seharusnya mendapatkan jabatan itu. Awalnya saya menanyakan kepada pimpinan fakultas, dan beliau hanya tersenyum dan mengatakan selamat bekerja. saat itu, saya benar benar gak habis pikir, karena sebulan off saya tidak mengetahui perkembangan kampus. Saya juga datang ke kampus hanya modal semaangat setengah, tidak terlalu happy. Disaat itu, saya juga merenung, ini sinyal apa lagi yang diberikan Tuhan. Dengan bismillah saya terima amanah ini dengan semangat baru. Mungkin ini dibalik kesusahan saya diberikan kemudahan dan tantangan untuk bisa bersemangat dengan aktivitas lainnya. saya memulai untuk membuat rencana strategis dan merampungkan buku manual mutu yang menjadi target fakultas.  Alhamdulillah, amanah ini saya selesaikan dengan terkareditasinya 3 prodi di Pertanian dengan nilai B, suatu kebanggan tempat saya bernaung nilai jurusan perikanan melonjak drastis dari c ke nilai B (327). hal ini tentunya berkat kerjasama yang luar biasa (team work)  dan iklim yang kondusif dan nyaman di fakultas pertanian. Kemudian Jurnal-Jurnal di Pertanian mulai hidup kembali, Jurnal Perikanan Kelautan dan Jurnal agroekoteknologi mendapatkan  indeksasi DOAJ, Meskipun belum terakreditasi DIKTI.

Bulan demi Bulan, tahun 2017 memberikan banyak tantangan. bulan september adalah bulan bulan yang menurut saya banyak tantangan sekaligus batu loncatan saya. saya melamar gadis yang saya idamkan pada tanggal 9 September, dan 19 September saya terbang ke Jepang untuk mengikuti konferensi di TUMSAT, sekaligus cari-cari sekolah yang cocok bagi saya. dan luar biasa saya juga merayakan hari milad saya di TOKYO, kota besar yang penuh tantangan, disiplin , dan semangat.


akhir tahun 2017, tepatnya bulan desember tanggal 22 di hari jumat berkah, saya menikah. Rasa haru dan bahagia, saya seolah mendapatkan kenikmatan berlipat lipat. mengalir begitu saja, bahkan saya tidak pernah membayangkan skenario hidup saya bisa begitu. ditambah lagi seminggu sebelum saya menikah, saya dinyatakan LULUS CPNS di BPPT RI. maka nikmat mana lagi yang saya dustakan ....


Dosen saya yang sudah saya anggap orang tua pernah berujar kepada saya. "fik, sesungguhnya dibalik kesusahan pasti ada kemudahan, Allah sudah janji, dan itu tercantum dalam FirmanNYA". Nasehat itu betul adanya, saya merasa lebih kuat dan siap menghadapi hidup, menjadi pemimpin bagi keluarga dan juga untuk menjadi kakak yang baik buat adik-adik saya.


refleksi kembali untuk sprit baru,


maret 2018



Sabtu, 03 Juni 2017

Ramadhan ajang media kampanye

Tidak terasa saya sudah dua minggu lebih dirumah, mengurus beebrapa hal administrasi yang memang harus diselesaikan secepatnya sepeninggalan mama. Maunya rehat dulu sejenak dan biarkan untuk mengurus ini setelah lebaran saja, tetapi kami berempat beradik kakak memang merantau dan jauh dari rumah, maka saya putuskan untuk menetap di padang sehingga urusan ini selesai dan adik-adik bisa beraktivitas kembali, kekampus kuliah, ujian, dan juga bekerja.

Bolak balik keluar rumah merupakan hal yang sangat tabu bagi saya jika pulang ke padang. saya lebih senang menghabiskan waktu dirumah. bercakap-cakap dirumah sambil mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan. waktu mama masih hidup, saya lebih sering menemani mama dirumah, ngobrol ringan santai, dan sampai ketawa-ketawa. jadi, kalau pulang dirumah yang paling ditunggu mama adalah saya, karena adik-adik saya kalau ke padang sudah berhamburan kemana-mana bersama temannya.. hehee


ok kita balik ke tema yang akan saya bahas pada kesempatan ini. Bulan ramadhan sebagai media kampanye. kenapa saya bilang media kampanye?? bukannya bulan ramadhan ini bulan istimewa bagi kita orang beriman. berpuasa, mengambil ibadah sebanyak-banyaknya dibandingkan dengan bulan lainnya. nah ini uniknya di kota padang, (gak tau dengan kota lainnya). kota padang jika sudah masuk bulan ramadhan, poster baliho, spanduk bertebaran dimana mana. menampilkan foto orang sambil mengucapkan marhaban ya ramadhan. hampir disetiap sudut kota saya temukan. bahkan tak jarang merusak pemandangan kota, pohon pohon pun jadi rusak. Mereka berusaha mengenalkan diri mereka dengan selubung ucapan ucapan ramdhan untuk menarik simpati. teori ini masih menjadi andalan mereka para para politisi agar bisa mengenalkan dirinya. bahkan di tv lokal sebelum berbuka puasa banyak sekali iklan iklan dari mereka yang sebenarnya bkin saya menggelitik. apakah kota padang khususnya atau sumatera barat pada umumnya masih bisa percaya jika trik ini mampu membuat msyarakat disini bisa mengenal lebih jauh siapa anda..


jika saya tarik relevansinya, oh ternyata kota padang tahun depan akan ikut serta pada pilkada serentak, yaiut pemilihan walikota dan wakil walikota padang. owh ini ternyata.. saya menggambarkan bahwa mereka sudah memanaskan mesin untuk bisa dikenal lebih banyak melalui media ramadhan. apalagi yang merantau, dipanaskan dikit untuk bisa berkontribusi di kampung halaman, bersedia mengeluarkan uang begitu banyak untuk bisa memperkenalkan dirinya agar elektabilitasnya meningkat. saya masih ingat, kasus bang andre rosiade yang baliho luar biasa, hampir disudut kota ada. beliau aktif di jakarta sebagai pengusaha. tapi last minute hasilnya bagaimana, jadi calon pun tidak uang habis banyak, dan gak menjadi apa-apa. waktu itu 10 calon yang mendaftar baik parpol dan non parpol, tapi tak ada satupun parpol ataupun jalur independen menempatkan nama beliau. akhirnya, baliho terbuang percuma, elektabilitas pun sudah ok tidak mempengaruhi apa-apa. lalu apa sebenarnya permasalahan dari kasus bang andre rosiade ini.

sebetulnya spanduk baliho yang dipasang di momen bulan ramdhan, sebenarnya tidak mempengaruhi apa-apa. karena apa, menurut saya cuma satu ingatan masyarakat kita ini pendek. jika anda maju menjadi calon, kemudian memanfaatkan momen momen ramadhan, pasang baliho spanduk, melalui radio, safari ramadhan itu tidak mempengaruhi cara pandang masyarakat kita. karena, pendidikan politik di indonesia tidak secara komperhensif mengajarkan bahwasanya pesta demokrasi di indoensia itu berjalan sesuai dengan kompetitif, track record, dan ide/gagasan yang ditawarkan.

banyak kasus yang terjadi. kita ambil contoh sifulan maju sebagai gubernur A, dia sudah melaksanakan berbagai program, bangun kampung, mesjid selama lima tahun. ketika hari pemilihannya, kalah sama dengan orang yang meberikan uang 50.000.. hehee. nah ini membuktikan bahwa sejauh apapun membuat suatu program ide, akan kalah dengan serangan fajar. maka saya bilang bahwa ingatan masyarakat kita ini pendek, apa yang anda lakukan dalam jangka setahun yang lalu atau dari lima tahun yang lalu juga tidak memberikan efek positif bagi terpilihnya anda sebagai gubernur, bupati,walikota,dsbagainya.


oleh karena itu saya sebenarnya agak ketawa dengan banyak baliho yang ada, poster yang bertebaran, dan cara mengenalkan diri di tv lokal. bahkan saya bisa menebang di kota padang ini, yang maju nanti pasti orangnya itu -itu saja. tidak akan muncul nama nama baru, walaupun banyak spanduknya dimana-mana yang jelas bagi saya itu hanya membuang duit saja. lebih baik di bulan ramadhan ini banyak infak sedekah, lebih berbobot nilainya jika menghabiskan duit untuk reklame, poster, baliho yang ujung-ujungnya tidak dicalonkan, dicalonkan tapi kalah :)

Rabu, 31 Mei 2017

Surat untuk Ibu

Tidak terasa sudah dua minggu ketiadaan beliau mendampingi kami. ibunda tercinta meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Allah memanggil beliau penuh kasih sayang, mengurangi sakitnya ibunda, beban ibu, dan juga tidak merasakan lagi tekanan-tekanan kehidupan. Dalam suratan takdir, Allah memanggil beliau pada 17 mei 2017, rabu dini hari sehabis melaksanakan sholat tahajud. Mama yang saya sayangi pergi tanpa menyusahkan kami, tidak merepotkan kami, dan tidak mau membebani kami. kami berempat, saya beradik kakak semuanya berada di Pulau Jawa, mencari ilmu mencari sesuap nasi demi membanggakan beliau. Bukan untuk gaya-gayaan, kami meninggalkan zona nyaman di kota padang untuk membentuk jati diri dan proses pematangan diri. Beliau menyuruh kami untuk menuntu ilmu pengetahuan stinggi-tingginya, menjadi kaum intelektual, agar kami punya pondasi dan keyakinan untuk menjalani hidup dalam nilai-nilai islam secara universal. agar kami tidak salah melangkah, dan memberikan yang terbaik untuk beliau.

Beliau tidak pernah menunjukkan keluh kesahnya kepada kami, beliau tetap tersenyum, walau kami tau beliau susah, tetapi beliau selalu ikhlas demi anak-anaknya, agar anaknya tidak banyak pikiran dan mendapatkan penghidupan yang layak. bahkan ketika beliau mengambil sekolah pascasarjaana di bandung, beliau memboyong kami semua ke bandung agar kami dapat terperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dengan penuh.

Saya sebagai anak pertama memang cukup dekat. bahkan sampai saat ini saya berasa mimpi, beliau tidak ada lagi secara fisik. nasehat-nasehat beliau akan hidup ini tidak saya dapatkan lagi. bahkan jika saya punya masalah, saya tidak punya tempat curhat untuk menyampaikan keluh kesah saya. beliau selalu mendengarkan apa yang saya rasakan, pendapat saya diterima jika itu baik, dan beliau selalu mengutamakan dialog dalam melihat perkembangan anaknya. saya sering dimarahi jika saya salah, tapi cara beliau memarahi saya dan adik adik terlihat kelembutan bahwa beliau sangat menyayangi kami.


Dari kecil saya selalu diberikan yang terbaik oleh ibu saya. mulai dari pakaian, nutrisi, dan apapun beliau tetap memberikan kualitas yang terbaik bagi saya. sejak mama menjadi dosen tahun 83, hingga saya lahir dan tumbuh besar saya selalu didekatkan pada nilai-nilai keislaman. bahkan ingat betul diingatan saya ketika saya takut melihat langit, saking takutnya saya selalu kabur ke kamar mama. Mama mengajarkan apa itu Allah, mengajarkan apa itu islam. saya pernah diberikan baju muslim dan peci hitam untuk saya pakai ke mesjid untuk sholat maghrib berjamaah. ketika saya beranjak dewasa, saya selalu diberikan nasehat-nasehat bagaimana dalam menghadapi masalah, ketika saya sakit beliau begitu telaten merawat saya dan bgitu juga dengan adik-adik. bahkan dalam mengajar pun kami sering dibawa,  mahasiswa pun ikut menjaga kami

sampai saat ini saya merasakan bahwa kasih sayang beliau betul-betul hingga dibatin kami beradik kakak, saat beliau sakitpun beliau tidak pernah menyusahkan kami. saya ingat ketika saya lagi masa -masa sulit dalam menyelesaikan skripsi, saya hampir tak diberitahu bahwa beliau kena diabet. bahkan saya pulang dan menyelasikan studi s1 baru saya tau kalau beliau sakit. dan hingga saat beliau menghirupkan nafas terakhir, saya sempat menelfon beliau untuk meminta pulang agar bisa menemani beliau, namun beliau menolak halus agar saya pulang lebaran saja.dan beliau masih tetap tersenyum walau suara beliau sudah terengah-engah.

banyak cerita banyak kenangan bersama beliau, tulisan ini saya tuliskan agar saya bisa bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan hidup, saya percaya bahwa seprti apa yang dikatakan beliau, alam dunia dan  alam barzah  jaraknya hanya sehelai rambut.,dimensinya saja berbda sehingga tidak tampak dengan kasat mata. Semoga Allah swt memberikan tempat terbaik untuk beliau, jauh dari siksa kubur, dan diampuni segala dosa-dosanya. dan kami yang ditinggalkan bsa kembali bersemangat dalam mencapai cita-cita dan agar beliau bangga memiliki anak seperti kami.


Kamis, 1 juni 2016

Taufik Hidayat

Senin, 27 Maret 2017

tradisi bintang di pilgub

pemilihan gubernur bersama pada tahun 2018memang masih satu tahun lagi. tak berbedanya engan pemilihan gubernur dki, setahun  sebelumnya pasti sudah ramai dengan calon-calon yang ingin berkonstelasi di pemilihan tersebut. tahun 2018, pemilihan gubernur di beberapa provinsi juga menghadirkan persaingan yang kompetitif. jatim misalnya, pak de karwo sudah dua periode. jabar juga, aher sudah mausk dua periode. sulsel begitu juga, syharul sudah masuk dua periode. persaingan dengan memunculkan muka baru tentunya sudah ditunggu-tunggu masyarakat.

kali ini kita cukup membahas pilgub jabar saja yang memang banyak memunculkan tradisi bintang. ditemani hujan, sambil menikmati kehangatan di rumah, saya mencoba menganalisis pilgub jabar ini. meskipun bukan ahli politik.... heheheee


baik, dalam pemberitaan baru baru ini,sosok fenomenal yang merupakan walikota bandung Ridawan Kamil (RK) mendeklarasikan dirinya untuk maju dalam pilgub jabar melalui nasdem. hal ini ya tentunya memberikan efek kejut bagi semua orang, terutama majunya RK didukung oleh partai Nasdem yang sebenarnya hanya punya 5% di Jabar. Gerindra dan PKS yang mengusung RK di kota bandung tentunya juga sudah mulai menghitung kembali kalkulasinya jika mendukung RK, mengingat gerindra dan PKS di pemerintah saat ini oposisi dan agak aneh rasanya berkompromi juga dengan Nasdem. sosok personality dan cara bekerja saya akui RK menjadi role model pemimpin saat ini. banyak gebrakan yang dilakukan di kota bandung dengan hasil yang sudah terlihat. RK yang didukung nasdem ini tentunya harus mencari teman agar syarat maju plgub terpenuhi. batal majunya RK di Pilgub DKI bisa saja arahan dari penguasa agar mengamankan Jabar, kalau kita lihat di pilpres, meskipu  di legislatif pdi p menang, namun pada pilpres masyarakat jabar memenangkan prabowo. kalkulasi inilah yang harus diperhatikan agar setahun ini bisa menggenjot kembali elektabilitas mesin partai pengusungnya.

selanjutnya kita tidak bisa lupakan, naga bonar dedy mizwar. sosoknya yang muncul di pilgub jabar lalu yang berpasangan dengan aher memberikan efek kejut yang luar biasa. aher bisa dibilang banyak tertolong dengan popularitas dedy mizwar. dedy mizwar yang juga tokoh diluar parpol tentunya juga akan dilirik lagi oleh PKS, disamping lagi memperhitungkan kader sendiri sperti istri aher bu netty.


di demokrat, masih ada nama dede yusuf. calon yang digadang gadangkan menang di pilgub sebelumnya, saat ini masih mumpuni jikaia maju lagi, bahkan kita bisa melihat diberbagai survey dede yusuf masih bagu elektabilitasnya. kita tunggu saja apakah demkrat membuat koalisi sperti  di pilgub dki jakarta.


di pdi perjuangan yang sudah memenuhi 20% , tentunya bsa mengajukan calon sendiri, saat ini sudah ada nama TB hasanudin dan juga rieke diah pitaloka yang pilgub selanjutnya pernah bertarung. pilihannya, apakah pdip akan bersama sama mengusung RK, jika kita anlogi dengan pilgub DKI yang akhirnya menudkung ahok.


kuda hitam menurut saya yang juga dapat diperhitungkan, dari partai beringin Dedi Mulyadi. bupati purwakarta ini juga berpotensi untuk menang di pilgub jabar, walau elektabilitasnya kecil, prediksi saya dedy mulyadi bisa menjadi sumber lumbung suara yang diperhitungkan, mengingat kinerjanya d purwakarta sangat mengesankan.

belum lagi calon calon yang popularitasnya saat ini juga bagus, aa gym dan sule misalnya juga bisa berpotensi meramaikan pilgub jabar.. :)

kalau saya bisa memilih, jika terjadi head to hed

RK berpasangan dengan Deddy mulyadi  berlawanan dengan Deddy Mizwar dan AAgym

RK Deddy mulyadi berlawanan dengan Dede Yusuf dan Deddy Mizwar

tapi itu hanya prediksi saya saja :)... kita lihat setahun kedepan,, politik yang dinamis,,, last minute pun bisa berubah. hal yang perlu saya sampaikan,, semoga masyarakat jabar bisa mempertahankan tradisinya,, memilih dengan rasional dan objektif .