Rabu, 09 Mei 2018

Mahasiswa IPB Kreasikan Rumput Laut sebagai Krim Tabir Surya

Rumput laut coklat mengandung senyawa fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet (UV).
Bogor (Antara Megapolitan) - Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan yang tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Rumput laut mengandung senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku krim tabir surya.

Penelitian ini dilakukan oleh Fevita Maharany, Nurjanah, Ruddy Suwandi (Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor-FPIK IPB),  Effonora Anwar (Universitas Indonesia) dan Taufik Hidayat (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).

Penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan komposisi kimia, senyawa fitokimia, vitamin E, dan aktivitas antioksidan ekstrak Padina australis dan Eucheuma cottonii. Rumput laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu: Rhodophyceae (merah), Phaeophyceae (coklat),Cyanophyceae (hijau-biru) dan Chlorophyceae (hijau). Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut coklat dan rumput laut merah.

Rumput laut coklat mengandung senyawa fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet (UV). Menurut penelitian sebelumnya, florotanin dapat menangkap radikal bebas yang disebabkan oleh radiasi sinar UV. Rumput laut coklat juga diketahui mengandung senyawa flavonoid.

Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenolik yang memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor tersebut menyebabkan kemampuan untuk menyerap gelombang sinar UV. Jenis rumput laut coklat yang potensial untuk dimanfaatkan salah satunya adalah Padina australis.

Produksi rumput laut di seluruh Indonesia berasal dari budidaya, antara lain dikembangkan di Jawa, Bali, NTB, Sulawesi dan Maluku. Hasil riset menyatakan, rumput laut E. cottonii mengandung protein, lipid, karbohidrat, a tokoferol, mineral, vitamin C, dan vitamin E, dapat mensintesis senyawa mycosporine (MAAs) yang berperan dalam absorpsi sinar UV.

Penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa rumput laut dapat digunakan dalam pembuatan kosmetik dalam bentuk karagenan, yaitu pada produk sabun, losion dan  gel topikal serta dalam bentuk bubur rumput laut untuk krim tabir surya.

Komposisi kimia P. australis kadar air 87,25%; abu 2,34%; protein 1,05%; lemak 0,58%; dan karbohidrat 8,78%, sedangkan komposisi kimia E. cottonii kadar air 76,15%; abu 5,62%; protein 2,32%; lemak 0,11%; dan karbohidrat 15,8%. Metode yang dilakukan yaitu rendemen ekstrak P. australis menggunakan pelarut metanol 4,55%; etil asetat 0,8% dan n-heksan 0,45%, sedangkan rendemen E. cottonii pelarut metanol 6,6%; etil asetat 0,5% dan n-heksan 0,35%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan vitamin E P. australis 162,75 µg/mL dan E. cottonii 158,07 µg/mL. IC50 P. australis 87,082 ppm dan E. cottonii 106,021 ppm. Senyawa fitokimia yang terkandung P. australis dan E. cottonii yaitu flavonoid, fenol hidrokuinon, dan triterpenoid, P. australis juga  mengandung tanin dan saponin.

Kandungan senyawa fitokimia tersebut mengindikasikan bahwa P. australis dan E. cottonii potensial untuk digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan tabir surya.(AT)

link terkait: https://megapolitan.antaranews.com/berita/31765/mahasiswa-ipb-kreasikan-rumput-laut-sebagai-krim-tabir-surya

Mahasiswa IPB Ciptakan Krim Pelembab Wajah Alami dari Rumput Laut

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan yang tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia.
Rumput laut mengandung senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet.
Sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku krim tabir surya.
enelitian ini dilakukan oleh Fevita Maharany, Nurjanah, Ruddy Suwandi  mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Effonora Anwar, Universitas Indonesia dan Taufik Hidayat dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan komposisi kimia, senyawa fitokimia, vitamin E, dan aktivitas antioksidan ekstrak Padina australis dan Eucheuma cottonii.
Rumput laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu Rhodophyceae (merah), P haeophyceae (cokelat), Cyanophyc eae (hijau-biru) dan Chlorophyceae (hijau).
"Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut coklat dan rumput laut merah," ujar Fevita Maharany dalam siaran pers yang diterima TribunnewsBogor.com


Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Mahasiswa IPB Ciptakan Krim Pelembab Wajah Alami dari Rumput Laut, http://bogor.tribunnews.com/2017/07/25/mahasiswa-ipb-ciptakan-krim-pelembab-wajah-alami-dari-rumput-laut.
Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Soewidia Henaldi


Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Mahasiswa IPB Ciptakan Krim Pelembab Wajah Alami dari Rumput Laut, http://bogor.tribunnews.com/2017/07/25/mahasiswa-ipb-ciptakan-krim-pelembab-wajah-alami-dari-rumput-laut.
Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Soewidia Henaldi

Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Mahasiswa IPB Ciptakan Krim Pelembab Wajah Alami dari Rumput Laut, http://bogor.tribunnews.com/2017/07/25/mahasiswa-ipb-ciptakan-krim-pelembab-wajah-alami-dari-rumput-laut.
Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Soewidia Henaldi

Menarik, Peneliti IPB Manfaatkan Ikan Ekor Kuning untuk Bahan Kosmetik

JAKARTA - Belakangan ini gaya hidup back to nature semakin masif di industri kosmetik. Berbagai bahan alam telah banyak dieksplorasi kandungan bioaktifnya untuk menghasilkan kosmetika alami.
Tim peneliti dari Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Nurjanah, Dr. Mala Nurilmala, Asadatun Abdullah M.Si, Prof. Dr. Tati Nurhayati dan Taufik Hidayat M.Si melakukan sebuah riset untuk mengembangkan bahan baku rumput laut tropika dan kolagen ikan ekor kuning sebagai industri kosmetika alami.
Untuk informasi sumber kolagen biasanya diambil dari sapi dan babi, namun dengan munculnya kasus beberapa penyakit pada sapi dan pandangan agama tertentu menyebabkan konsumen ragu dan lebih selektif dalam memilih bahan kosmetik. Hal ini mendasari tim peneliti IPB untuk memilih bahan dasar alami lainnya.
Prof. Nurjanah mengatakan, ia dan timnya menggunakan produk kosmetik berbahan dasar rumput laut tropika yang nantinya dapat menjadi alternatif sebagai kosmetik alami. Rumput laut mengandung komponen bioaktif yang baik untuk kesehatan kulit yaitu florotanin, vitamin E, dan asam lemak.
“Ikan ekor kuning mudah ditemukan dipasaran. Setelah dilakukan riset, ternyata hasil rendemennya bagus," ungkap dia seperti dilansir dari laman IPB, Rabu (25/4/2018).
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa timnya memilih tiga jenis rumput yaitu Sargassum, Euchema cottonii dan Turbinaria.
“Kandungan bioaktif dan antioksidan ketiga berada pada kategori kuat dan sedang. Produk penelitian dari tim peneliti ini adalah lipbalm dan tabir surya (sunscreen),” jelas Nurjanah.
Terakhir ia menuturkan setelah rangkaian pengujian produk yang ia dan timnya lakukan, krim tabir surya hasil kombinasi rumput laut Euchema cottonii dan Turbinaria adalah hasil yang terbaik.
“Sedangkan untuk lipbalm dikombinasikan dari E. cottonii dan Sargassum. Produk kosmetik krim tabir surya dan lipbalm yang dihasilkan memiliki nilai Sun Protecting Factor (SPF) yang baik bagi kulit,” pungkasnya.

link terkait :https://news.okezone.com/read/2018/04/24/65/1890874/menarik-peneliti-ipb-manfaatkan-ikan-ekor-kuning-untuk-bahan-kosmetik

http://litbang.kemendagri.go.id/website/riset-ahli-pangan-ipb-mengkonsumsi-dua-jenis-kerang-ini-berpotensi-cegah-penyakit-diabetes/

RIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sektor perikanan saat ini masih melakukan eksplorasi pada hasil laut seperti tuna, udang dan rumput laut, sedangkan berbagai jenis moluska masih belum diminati untuk dikembangkan.
Salah satu contoh moluska adalah kerang yang jumlahnya melimpah di daerah tropis dan sumber protein hewani yang baik dan murah bagi masyarakat.
Profesor Nurjanah, peneliti dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan daging kerang merupakan makanan yang memiliki kandungan protein tinggi, nilai kalori rendah, rendah lemak atau rendah kolesterol dengan proporsi yang lebih rendah pada lemak jenuh.
Selain itu, daging kerang juga mengandung asam amino esensial, vitamin B12 dan mineral penting seperti zat besi, seng dan tembaga
“Keunggulan khas dari jenis kekerangan adalah zat gizi taurin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan,” ujarnya.
Manfaat taurin adalah untuk mencegah diabetes, mencegah kerusakan liver akibat alkohol, penyembuhan pada masalah penglihatan, menurunkan kadar kolesterol darah, menormalkan tekanan darah dan melawan penyakit hati.
Taurin juga sangat dibutuhkan pada saat perkembangan dan pertumbuhan.
“Oleh sebab itu taurin dapat ditemukan pada hampir semua susu-susu formula untuk bayi dan suplemen memiliki kandungan taurin,” ujar Profesor Nurjanah.
Ada beberapa jenis kerang yang kurang familiar dan belum banyak dikembangkan pemanfaatannya.
Misalnya, kerang tahu (Meretrix meretrix) di beberapa negara dijadikan sebagai indikator pencemaran logam berat dan untuk konsumsi.
Kerang salju (Pholas dactylus) dan keong macan (Babylonia spirata) merupakan salah satu komoditi ekspor.
Kerang tersebut merupakan komoditi perikanan yang berpotensi untuk dikembangkan, namun informasi mengenai kandungan gizinya masih sangat terbatas.
Profesor Nurjanah bersama peneliti lainnya dari Departemen Teknologi Hasil Perairan yaitu Asadatun Abdullah, Rizky Chairunisah beserta Taufik Hidayat dari Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa telah meneliti kandungan dan karakteristik kimiawi dari daging kerang tahu, kerang salju dan keong macan.
Dari percobaannya peneliti ini didapati temuan bahwa kerang tahu, kerang salju dan keong macan mengandung 15 asam amino yang terdiri atas 9 asam amino esensial dan 6 asam amino non esensial.
“Asam amino esensial pada kerang tahu, kerang salju dan keong macan adalah histidin, arginin, treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin,” ungkapnya.
Asam amino non esensial yang terdapat pada sampel adalah asam aspartat, asam glutamat, serin, glisin, alanin dan tirosin. Kandungan asam amino esensial yang tertinggi terdapat pada daging kerang tahu, kerang salju dan keong macan adalah arginin.
Kandungan asam amino non esensial yang tertinggi pada daging kerang tahu, kerang salju dan keong macan adalah asam glutamat.
“Kandungan taurin pada daging kerang salju lebih besar daripada keong macan dan kerang tahu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kadar lemak, protein dan karbohidrat kerang tahu berturut-turut adalah 0,11; 9,39 dan 9,02%, kerang salju 0,11; 11,37 dan 3,55%; keong macan 0,33; 17,38 dan 2,65%.
Kandungan asam amino esensial yang tertinggi dari daging kerang tahu, kerang salju dan keong macan adalah arginin sedangkan kandungan asam amino non esensial yang tertinggi adalah asam glutamat.
Kandungan taurin pada daging kerang salju lebih besar daripada keong macan dan kerang tahu. (IFR/Tribunnews.com)

link terkait :http://litbang.kemendagri.go.id/website/riset-ahli-pangan-ipb-mengkonsumsi-dua-jenis-kerang-ini-berpotensi-cegah-penyakit-diabetes/

http://www.pelitasatu.co.id/2018/01/16/dosen-ipb-teliti-buah-lindur-sebagai-bahan-pembuatan-beras-analog/

BOGOR – Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras tertinggi di dunia, yaitu 139,5 kg/kapitalisme/tahun. Untuk mengurangi konsumsi beras, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) manfaatkan buah lindur sebagai bahan pembuatan beras analog dengan mengkombinasikannya dengan sagu dan kitosan.
Beras analog adalah beras yang diproduksi tidak dengan ditanam di sawah, melainkan diproduksi di pabrik dengan mengolah dari bahan-bahan pangan yang ada.
Inovasi ini merupakan salah satu dari empat karya Prof. Dr. Ir. Nurjanah, MS, dosen sekaligus Guru Besar Teknologi Hasil Perairan, FPIK, IPB yang terpilih sebagai empat dari 109 inovasi Indonesia tahun 2017 yang diumumkan oleh BIC (Business Innovation Center) pada tanggal 09 Agustus 2017 lalu.
Beras analog dari buah lindur yang dikombinasikan dengan sagu dan kitosan merupakan inovasi dari penelitian Prof Nurjanah bersama dua rekannya yakni Taufik Hidayat dan Pipih Suptijah.
Buah lindurnya yang digunakan merupakan mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia dan memiliki karbohidrat yang sama dengan beras pada umumnya. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang sangat berguna bagi masyarakat terutama pada daerah pesisir.
“Salah satu upaya untuk menghindari ketergantungan beras masyarakat Indonesia adalah diversifikasi pangan dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lokal sebagai produk pangan misalnya beras analog. Kami menggunakan buah lindur karena buah lindur merupakan salah satu buah yang merupakan sumber karbohidrat, terlebih produksinya yang melimpah di Indonesia,” terangnya.
Rekan penelitian Prof Nurjanah, Taufiq Hidayat mengungkapkan bahwa beras analog ini low indeks glikemik, banyak serat dan sangat cocok bagi penderita diabetes. Adapun kombinasi buah lindur dengan sagu karena menurutnya sagu termasuk komoditas penting yang belum termanfaatkan secara optimal. Selain itu, Prof Nurjanah juga menggunakan kitosan sebagai bahan pengikat dan penstabil.
“Kitosan memiliki sifat yang sama dengan bahan pembentuk tekstur sintesis yang dapat memperbaiki penampakan dan tekstur suatu produk karena memiliki daya pengikat air dan minyak yang kuat dan tahan panas,” tambahnya.
Dari hasil penelitian Prof Nurjanah dan dua rekannya, didapati bahwa tepung buah lindur dapat menjadi alternatif subtitusi terigu karena mengandung karbohidrat yang tinggi yakni 86,10 persen. Sedangkan formulasi beras analog terbaik adalah kombinasi 70 persen tepung lindur, 30 persen tepung sagu, dan kitosan 0,5 persen.

link terkait :http://www.pelitasatu.co.id/2018/01/16/dosen-ipb-teliti-buah-lindur-sebagai-bahan-pembuatan-beras-analog/

Buah Lindur Sebagai Beras Alternatif

Edisi kali ini mengetengahkan topik mengenai Buah Lindur Sebagai Beras Alternatif . padi atau beras masih menjadi sumber makanan pokok utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras merupakan yang tertinggi di dunia yaitu sebesar 139,5 kg /tahun. Untuk menjamin ketersediaan pangan, berbagai pihak terkait melakukan berbagai upaya. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian misalnya telah mencanangkan diversivikasi pangan yang akan dijalankan pada tahun 2018 ini. Program ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu. Namun, pengganti beras dan terigu tersebut harus bersumber dari komoditas lokal bernutrisi dan aman untuk dikonsumsi.
untuk mendukung program diversivikasi pangan dan mengurangi konsumsi beras, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat, memanfaatkan buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza) sebagai bahan pembuatan beras analog dengan cara mengombinasikannya dengan sagu dan kitosan. Beras analog adalah beras yang diproduksi tidak dengan ditanam di sawah, melainkan diproduksi di pabrik dengan mengolah dari bahan-bahan pangan yang ada.
Inovasi ini dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Nurjanah, MS, dosen sekaligus Guru Besar Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) beserta dua rekannya Taufik Hidayat dan Pipih Suptijah. Penemuan ini merupakan salah satu dari empat karya Prof. Nurjanah yang berhasil terpilih sebagai empat dari 109 inovasi Indonesia tahun 2017 yang diumumkan oleh BIC (Business Innovation Center) pada 9 Agustus 2017 lalu.
Buah lindur yang digunakan merupakan salah satu jenis mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia dan memiliki karbohidrat yang sama dengan beras. Menurut Nurjanah, timnya menggunakan buah lindur karena buah ini merupakan sumber karbohidrat, terlebih produksinya yang melimpah di Indonesia. Nurjanah menambahkan, salah satu upaya untuk menghindari ketergantungan beras masyarakat Indonesia adalah diversifikasi pangan dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lokal sebagai produk pangan misalnya beras analog.
Sementara itu, Taufik Hidayat menambahkan bahwa beras analog ini mengandung banyak serat dan sangat cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes. Tim memilih kombinasi buah lindur dengan sagu karena menurutnya sagu termasuk komoditas penting yang belum termanfaatkan secara optimal. Selain itu, Prof Nurjanah juga menggunakan kitosan sebagai bahan pengikat dan penstabil. Kitosan adalah senyawa polimer alam yang diisolasi dari limbah perikanan seperti udang, cangkang kepiting dan lain-lain.  Taufik menjelaskan, kitosan memiliki sifat yang sama dengan bahan pembentuk tekstur sintesis yang dapat memperbaiki penampakan dan tekstur suatu produk karena memiliki daya pengikat air dan minyak yang kuat dan tahan panas. Dari hasil penelitian Prof Nurjanah dan dua rekannya, didapati bahwa tepung buah lindur dapat menjadi alternatif subtitusi terigu karena mengandung karbohidrat yang tinggi yakni 86,10 persen. Sedangkan formulasi beras analog terbaik adalah kombinasi 70 persen tepung lindur, 30 persen tepung sagu, dan kitosan 0,5 persen.

Peneliti IPB Ciptakan Alternatif Saus Tiram Berbahan Kerang Bulu

Selain bumbu dapur, bumbu olahan seperti saus tiram kerap digunakan untuk menambah cita rasa sebuah masakan. Rasanya yang gurih serta memiliki aroma yang khas membuat saus berbahan kerang tiram ini sering dijadikan bahan utama dalam pembuatan olahan seafood.
Meski menjadi salah satu bumbu dapur esensial, namun tahukah kamu bahwa kerang tiram yang digunakan dalam membuat saus tiram berasal dari hasil impor luar negeri. Alasan inilah yang menyebabkan harga saus tiram mahal.
Padahal, menurut para peneliti IPB (Institut Pertanian Bogor), permintaan akan saus tiram di Indonesia sangat tinggi. Karenanya, untuk memaksimalkan produksi saus tiram dengan harga yang terjangkau, para peneliti IPB memanfaatkan kerang bulu sebagai bahan baku utama dari pembuatan saus tiram.

Berdasarkan rilis yang diterima kumparan (kumparan.com) dari IPB (14/2), tiga orang dosen dari Departemen Teknologi Hasil Perairan (FPIK) IPB yang terdiri dari Dr Asadatun Abdullah, Prof. Nurjanah dan Taufik Hidayat, SPi.MSi berhasil memanfaatkan kerang bulu untuk bahan baku alternatif saus tiram.
"Karena saya melihat harga saus tiram yang mahal, saya pun akhirnya tertarik untuk mengambil jenis kerang yang ekonomis dengan harga rendah. Kerang bulu ini kami substitusikan pada bahan baku untuk menggantikan tiram," terang Taufik.
Alasan dipilihnya kerang bulu sebagai pengganti kerang tiram dikarenakan produksi kerang bulu di Indonesia sangat melimpah. Bahkan, produksinya bisa menyaingi kerang dara yang lebih populer di Tanah Air.
Kerang bulu memiliki nilai jual yang jauh lebih murah dibandingkan kerang tiram. Meski murah, nilai gizi kerang bulu tidak bisa dianggap remeh.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh para dosen FPIK di IPB menjelaskan bahwa kerang bulu memiliki kandungan asam amino glutamat, asam lemak omega 3, dan omega 6 yang tinggi.
Asam glutamat yang tinggi akan menciptakan rasa umami pada makanan sehingga terasa lebih lezat dan gurih. Selain itu senyawa pemberi rasa gurih ini juga berperan penting untuk meningkatkan sekresi saliva yang dapat meningkatkan kesehatan mulut.
Dengan banyaknya manfaat yang dibawa oleh kerang dara, IPB optimis bahwa inovasi yang mereka lakukan akan menambah sumber makanan masa depan. Juga diharapkan bahwa alternatif ini dapat memenuhi permintaan produk saus tiram yang berkualitas dengan harga terjangkau.
"Ke depannya terus dilakukan eksplorasi bahan baku hasil perairan yang lainnya, apalagi jenis kerang dan potensinya yang besar. Harapannya potensi ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan masa depan," tutup Taufik.
Artikel Asli https://today.line.me/id/pc/article/Penliti+IPB+Ciptakan+Alternatif+Saus+Tiram+Berbahan+Kerang+Bulu-oJ9MYN