Rumput Laut dapat Menangkal Covid-19
Taufik Hidayat , Perekayasa BPPT./ Wasekjen MPHPI (Selasa, 31 Maret 2020)
Akhir tahun 2019, dunia dihadapkan dengan wabah yang penyebarannya sangat cepat di kota Wuhan Provinsi Hubei China. Berbagai pakar kesehatan dan ilmuwan juga sudah memetakan dengan menggunakan modeling matematika sehingga Indonesia juga diprediksi wabah itu sudah datang. Awal Januari ketika Imlek, wabah ini memuncak. China langsung diisolasi tepatnya wuhan agar tidak menyebar. Negara tetangga persekutuan china misal hongkong dan taiwan juga menutup cepat perbatasan, mengingat nostalgia lama terkait mers juga khawatir menghampiri kembali. Indonesia, justru sebaliknya sangat tenang dan percaya diri belum ada kasus. Puncaknya Italy pun kena, Amerika juga kena. Bahkan kedua negara ini telah mengalahkan china. Indonesia pun datang, awal maret diumumkan sampai saat ini trennya cukup meningkat tajam, hingga menyebar ke 20 provinsi, Bahaya? tentu, karena wabah ini tidak terlihat. Kita bisa melihat beberapa pakar melakukan riset cepat agar menemukan vaksinnya.
sebagai manusia kita harus berikhtiar, aspek pangan merupakan salah satu yang penting dalam menjaga kondisi tubuh. beberapa riset saat ini juga membuktikan bahwa senyawa senyawa dalam buah buahan dan sayur menjadi penting dalam menangkal covid-19. saya ingin mencoba gali lagi apa senyawa yang dapat menangkal. ternyata dalam kulit jeruk ditemukan senyawa hesperidin (penelitian IPB). Akan tetapi, kulit jeruk yang pahit sangat mempengaruhi masyarakat untuk mengkonsumsi.
saya kemudian iseng sesuai dengan keilmuan saya, apakah bahan baku perikanan mempunyai senyawa yang sama ? senyawa dari hewani ataupun tumbuhan laut? ini mungkin menjadi riset yang menarik kedepan, karena bahan baku hasil perikanan saat ini hanya berkutat pada kandungan senyawa makro saja.
Tenyata beberapa hasil riset membuktikan bahwa beberapa jenis rumput laut juga mengandung senyawa hesperidin tersebut. Jenis rumput laut merah banyak mengandung senyawa ini. Senyawa ini merupakan golongan senyawa flavonoid. Hasil isolasi dari kozokwa et al. 2009 menyebutkan bahwa ekstrak kasar rumput laut merah mengandung senyawa hisperedin yang tinggi disamping ruitn, dan senyawa flavonoid lainnya. Disamping itu, rumput laut juga mempunyai senyawa quercetin dan lectin yang juga dapat bersifat sebagai antinflamatory.
oleh karena itu, rumput laut bisa menjadi salah satu bahan pangan yang dapat dikonsumsi dikala wabah ini. rumput laut segar bisa didapatkan di pasaran dan dapat diolah menjadi lalapan minuman dan bahan produk makanan.
semoga kajian rumput laut ini bisa dikembangkan di Indonesia dengan mengembangkan senyawa hisperidin pada rumput laut menjadi bentuk sediaan yang dapat digunakan pada bahan produk pangam
Selasa, 31 Maret 2020
Minggu, 29 Maret 2020
MEMBUMIKAN INDUSTRI RUMPUT LAUT
MEMBUMIKAN
INDUSTRI RUMPUT LAUT
Taufik
Hidayat
Perekayasa
Badan Pengkajian Penerapan Teknologi/ Wasekjen Masyarakat Pengolahan Hasil
Perikanan Indonesia (MPHPI)
Presiden
Joko Widodo dalam hal ini pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden no. 33
tahun 2019 terkait dengan percepatan industri rumput laut. Dalam 3 tahun
kedepan rencana aksi untuk pengembangan rumput laut harus menjadi tugas bersama
stakeholder yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan untuk mewujudkan
industri rumput laut yang berdaya saing. Sejauh mana persiapan pemerintah dalam
mewujudkan industri rumput laut?
Problematika rumput laut
Sejak
pemerintahan SBY presiden ke-6 rumput laut menjadi tugas berat pemerintah.
Menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan sampai membuat sayembara mobil mewah bagi
siapa saja yang bisa membangun industri rumput laut dari hulu hingga hilir.
Namun, sampai saat ini sayembara itu belum terjawab. Banyak industri rumput
laut di Indonesia yang gulung tikar, belum lagi bahan baku rumput laut yang
diekspor dalam bentuk mentah sehingga stok bahan baku dlaam negeri berkurang, belum
sempurnanya teknologi pengolahan rumput laut di Indonesia menyebabkan industri rumput laut berada pada
titik nadir. Hal ini menjadi kesadaran
pemerintah saat ini untuk mempercepat
industrialisasi rumput laut. Kenapa harus dipercepat? Tentunya kita
mengetahui bahwa rumput laut merupakah hasil kekayaan laut yang menjadi
ekonomis penting. Dalam sektor perikanan rumput laut menjadi komoditas ekspor
yang menghasilkan nilai tambah yang besar untuk Negara. Ada 555 spesies yang
ada di Indonesia, keanekaragaman ini lebih tinggi jika dilihat dari Negara
jepang. Namun sayangnya, hanya beberapa persen yang masih dimanfaatkan, dari
555 spesies tersebut hanya 50 spesies yang termanfaatkan. Disamping itu, ekspor
mentah juga menjadi kendala yang menyebabkan harga rumput laut terbilang
rendah. Belum adanya standardisasi bahan baku rumput laut serta informasi penggunaanya
menyebabkan industr kita tertinggal dengan Negara ASEAN lain. Contohnya,
Filipina yang saat ini sudah bisa ekspor karagenan dengan kualitas
premium. Thailand juga sudah mengolah
rumput laut menjadi aneka pangan yang enak dan bergizi. Oleh karena itu,
problematika rumput laut harus diselesaikan.
Langkah konkrit industri rumput
laut
Adanya
perpres no 33 tahun 2019 menjadi jawaban dan tugas dari presiden kepada
stakeholder pemerintah terkait untuk membenahi sekotr rumput laut. Tujuannya
hanya satu, berdikari rumput laut. Rumput laut tidak boleh diekspor mentah. 20
persen harus dimaksimalkan untuk menjadi produk yang bernilai. Nawa cita poin 6
untuk menciptakan produk berdaya saing untuk perekonomian rakyat harus dijawab
dengan mengembangkan industri rumput laut yang kokoh. Pemanfaatan rumput laut
tidak lagi hanya untuk sektor pangan, tetapi juga dikembangkan melalui sektor
non pangan. Perlu diketahui, rumput laut selain mempunyai kandungan gizi yang
tinggi, juga mengandung kandungan-kandungan bioaktif yang dapat digunakan untuk
kosmetik dan obat-obatan. Jika kita lihat pemanfaatannya, rumput laut saat ini
sudah masuk pada tahap generasi ketiga dimana pemanfaatan rumput laut diarahkan
pada pengembangan kosmetik, senyawa baru untuk obat-obatan dan kedepannya bisa
menjadi energi terbarukan. Hasil –hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput
laut mempunyai khasiat yang baik untuk kesehatan. Rumput laut juga mempunyai
turunan misalnya karagenan dan alginat yang saat ini pengembangannya sangat
bermanfaat untuk industri. Selain itu, hasil riset penulis bersama prof
nurjanah dari IPB University juga menunjukkan bahwa bubur rumput laut segar
juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetika dan juga pengembangan
garam berbasis rumput laut. Di BPPT sendiri, rumput laut dalam hal ini
karagenan bekerjasama dengan PT kapsulindo Nusantara juga sudah mengembangkan
cangkang kapsul rumput laut. Sudah banyak yang dihasilkan oleh para stakeholder
ABG-C (Academisi-Bisnis-Government)-Comunity dalam pengembangan rumput laut,
tinggal menyatukan langkah agar industri rumput laut yang terintegrasi menjadi
wujud aksi nyata dalam rencana aksi perepres no 33 tahun 2019. Tentuya ini
menjadi tugas bersama, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci. Semua praktisi dan
stakeholder yang bergerak dibidang rumput laut harus bisa bergerak bersama
meninggalkan ego sektoral. Kita harus mampu seperti India dan China yang
membangun industri hidrokoloid karagenan
dengan skala besar. Kita harus sadar bahwa Indonesia mampu mengembangkan industri
karagenan yang foodgrade yang bisa masuk standar CODEX. Kita juga mampu
mengembangkan budidaya rumput laut komersial terutama rumput laut merah melalui
kultur jaringan. Kita juga mampu membuat olahan pangan dan non pangan berbasis
rumput laut. Semuanya bisa disatukan dengan integrasi hulu hilir industri
rumput laut hingga kedepannya mampu menghasilkan produk olahan rumput laut yang
berkualitas dan teknologi yang mampu mendukung industri rumput laut. Kita
tunggu tahun 2022, semoga hal ini bisa terwujud. Apakah sayembara Pak Dahlan Iskan masih berlaku? Kita tunggu
siapa yang mampu mewujudkan keinginan presiden Jokowi.
Rabu, 01 Januari 2020
2019 menuju 2020 : Menyimak Renungan dan Langkah Kedepan
Tahun 2020 sudah masuk, diiringi dengan hujan deras. Namun, itu tak mempengaruhi kondisi tubuh yang sudah tak tertahan ngantuk yang luar biasa. Ya, saya selama dua hari mengalami kurang tidur. Saya dan istri siaga 24 jam, karena anak kami mengalami demam kejang. Selama dua hari dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, tidak banyak hasil yang menggembirakan. Suhu shafa yang naik turun membuat saya berpikir keras. Tangisan dan kurang tidurnya anak saya membuat saya mengambil keputusan penting untuk membawa anak saya pulang ke rumah walau kondisi yang belum stabil. Keputusan penting sebelumnya juga sudah saya ambil ketika BPJS yang saya punya tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Rumah sakit swasta ini banyak berdalih, kamar penuh, dan harus turun kelas atau naikkan kelas dengan membayar lagi. Obatnya harus dari bpjs, dan harus dirawat 3 hari. Aturan ini membuat meledak emosi, namun saya tak boleh marah dan panik, saya ambil keputusan untuk membayar dan mengambil kamar sendiri untuk anak agar proses penyembuhan berlangsung cepat. Akan tetapi, proses perawatan justru membuat anak saya pun tak nyaman, pemasangan infus membuat anak takut sehingga membuat menangis dan panasnya turun naik. jadi PR agar mungkin kedepannya infusan untuk anak-anak bisa lebih efektif. kedepannya juga menjadi evaluasi bagi kemekes juga untuk menghadirkan pelayanan rumah sakit yang humble, dengan perawatan medis yang juga cekatan sehingga bisa bagus seperti diluar negeri. Disamping itu, juga saya mencermati biaya rumah sakit yang tinggi, sehingga program BPJS harus bisa disamakan dengan asuransi lainnya. Mungkin masih lebih bagus ASKES untuk program meskipun hanya diberikan potongan, tetapi pelayanan dan standar obat masih baik.
Seminggu sebelumnya saya menyempatkan nonton Habibie dan Ainun melalui poin of view Ainun. Luar biasa cita -cita menjadi dokter, bahkan saya terkesima bagaimana sulitnya menjadi dokter. Akan tetapi, perenungan saya hari ini, dokter sepertinya harus mengkoreksi kembali SDM nya. Dulu menjadi dokter tidak mudah, sekarang dengan bayar kursi ratusan juta bisa sekolah dokter. Maka banyak yang bilang untuk memilih dokter cocok-cocokkan, dan yang berpengalaman jadi pilihan utama. Semoga anak saya shafa kuat dan sembuh dan kembali energik ceria dan tersenyum.
Dalam pergantian tahun ini memang kalau kita melihat negara maju, euforianya sangat besar, momennya terasa. Hal ini juga dirasakan di Indonesia. pergantian tahun menjadi salah satu perayaan besar. Padahal yang kita tau waktu memang berlalu cepat, pepatah arab mengatakan bahwa waktu itu ibarat pedang. Sudah banyak suka duka yang saya lalui bersama keluarga. Tantangan demi tantangan, masalah- demi masalah kami hadapi bersama. Berbeda pendapat, menurunkan ego, dan mengambil keputusan merupakan langkah-langkah yang selalu saya rasakan. Memang, untuk melihat kecendrungan dunia yang tidak pasti, maka saya harus bisa berstrategi, bersinergi, berkolaborasi, dan merendahkan hati untuk bisa melaluinya. Mengusir kekhawatiran, ketakutan, dan juga harus bisa mendobrak keresahan, agar kehidupan yang dijalani tetap on the track. Tentunya selalu bersyukur dan berdoa agar Allah selalu melindungi jalan kami dibawah naungan kebaikan.
Maka pergantian tahun ini hendaknya evaluasi diri, mempersiapkan diri untuk langkah kedepan dengan pondasi apa saja yang telah dilakukan di waktu sebelumnya. Terus belajar dan belajar dari detik, menit, dan hingga waktu dimensi terbesar .Saya harus bisa berlari kencang menyesuaikan kondisi zaman, membangun pondasi kokoh keluarga sakinah mawadah warohmah, mengemban amanah untuk ambil sepenuhnya peran bersama istri untuk mendidik, ,membimbing, dan mendampingi shafa supaya menjadi anak yang sholehah, sehat, dan tumbuh kembang dengan baik. Anak tidak boleh dianggap investasi, ini banyak sekali terjadi dikalangan orang tua. Anak kalau sudah bekerja harus memberikan feedback. Bukan itu, anak adalah sarana untuk memudahkan orang tua di akhirat. Jika kita didik baik maka insha Allah anak yang sholeh dan sholehah menjadi bantuan ketika yaumil hisab nanti. sebaliknya, jika tidak didik hanya untuk investasi dunia, maka bisa jadi akan memberatkan kita nanti diakhirat. Maka yang berbangga bangga anaknya kerja di A, B, dan C yang selalu diutarakan dan dibangga-banggakan dengan gaji yang besar, maka cek lagi apakah itu tujuan kebahagian ? jangan-jangan bisa membahayakan di akhirat kelak.
Pada akhirnya, pesan dari rasulullah melalui hadistt menjadi pegangan kunci :" Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin, maka celakalah bagi mereka yang hari esoknya lebih buruk dari hari kemarin"
Seminggu sebelumnya saya menyempatkan nonton Habibie dan Ainun melalui poin of view Ainun. Luar biasa cita -cita menjadi dokter, bahkan saya terkesima bagaimana sulitnya menjadi dokter. Akan tetapi, perenungan saya hari ini, dokter sepertinya harus mengkoreksi kembali SDM nya. Dulu menjadi dokter tidak mudah, sekarang dengan bayar kursi ratusan juta bisa sekolah dokter. Maka banyak yang bilang untuk memilih dokter cocok-cocokkan, dan yang berpengalaman jadi pilihan utama. Semoga anak saya shafa kuat dan sembuh dan kembali energik ceria dan tersenyum.
Dalam pergantian tahun ini memang kalau kita melihat negara maju, euforianya sangat besar, momennya terasa. Hal ini juga dirasakan di Indonesia. pergantian tahun menjadi salah satu perayaan besar. Padahal yang kita tau waktu memang berlalu cepat, pepatah arab mengatakan bahwa waktu itu ibarat pedang. Sudah banyak suka duka yang saya lalui bersama keluarga. Tantangan demi tantangan, masalah- demi masalah kami hadapi bersama. Berbeda pendapat, menurunkan ego, dan mengambil keputusan merupakan langkah-langkah yang selalu saya rasakan. Memang, untuk melihat kecendrungan dunia yang tidak pasti, maka saya harus bisa berstrategi, bersinergi, berkolaborasi, dan merendahkan hati untuk bisa melaluinya. Mengusir kekhawatiran, ketakutan, dan juga harus bisa mendobrak keresahan, agar kehidupan yang dijalani tetap on the track. Tentunya selalu bersyukur dan berdoa agar Allah selalu melindungi jalan kami dibawah naungan kebaikan.
Maka pergantian tahun ini hendaknya evaluasi diri, mempersiapkan diri untuk langkah kedepan dengan pondasi apa saja yang telah dilakukan di waktu sebelumnya. Terus belajar dan belajar dari detik, menit, dan hingga waktu dimensi terbesar .Saya harus bisa berlari kencang menyesuaikan kondisi zaman, membangun pondasi kokoh keluarga sakinah mawadah warohmah, mengemban amanah untuk ambil sepenuhnya peran bersama istri untuk mendidik, ,membimbing, dan mendampingi shafa supaya menjadi anak yang sholehah, sehat, dan tumbuh kembang dengan baik. Anak tidak boleh dianggap investasi, ini banyak sekali terjadi dikalangan orang tua. Anak kalau sudah bekerja harus memberikan feedback. Bukan itu, anak adalah sarana untuk memudahkan orang tua di akhirat. Jika kita didik baik maka insha Allah anak yang sholeh dan sholehah menjadi bantuan ketika yaumil hisab nanti. sebaliknya, jika tidak didik hanya untuk investasi dunia, maka bisa jadi akan memberatkan kita nanti diakhirat. Maka yang berbangga bangga anaknya kerja di A, B, dan C yang selalu diutarakan dan dibangga-banggakan dengan gaji yang besar, maka cek lagi apakah itu tujuan kebahagian ? jangan-jangan bisa membahayakan di akhirat kelak.
Pada akhirnya, pesan dari rasulullah melalui hadistt menjadi pegangan kunci :" Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin, maka celakalah bagi mereka yang hari esoknya lebih buruk dari hari kemarin"
Kamis, 10 Januari 2019
Scopus?
kali ini kita bicara terkait syarat guru besar harus menerbitkan naskah jurnal di scopus. pembicaraan ini begitu hangat di kalangan akademisi. menjadi guru besar adalah puncak tertinggi yang ingin dicapai. dulu jika ingin jadi GB maka banyak gagasan dan sumbangsih yang diberikan, maka era saat ini untuk menjadi GB harus melewati syarat untuk bisa nulis di jurnal bereputasi internasional, salah satunya scopus.
kalau kita bicara scopus, saya mengingat definisi ini yang merupakan salah satu gunung di yerussalem. namun nama ini menjadi populer saat ini dikalangan ilmuwan. gak akan jadi GB kalau gak nulis di scopus, begitu kira -kira pemahaman yang terjadi saat ini. Scopus merupakan salah satu indexing bereputasi dari belanda yang juga mempunyai beberapa anak usaha misalnya science direct dan elsevier. dahulu publikasi ilmiah menjadi salah satu sarana mempublikasikan hasil hasil riset, tetapi saat ini sudah mengarah ke bisnis sehingga untuk menerbitkan naskah harus mengeluarkan dana yang tidak juga sedikit.
balik lagi ke inti bahasan kita, mengapa menjadi GB harus ke scopus? pertanyaan ini lah yang muncul sehingga banyak yang menggugat, bahkan ada yang menggugat sampai ke MK, kemudian membuat tulisan tulisan di media cetak. dan isunya jika profesor tidak aktif lagi menulis di jurnal reputasi nasional maka tunjangannya akan dicabut atau dikurangi persentasinya. Ini bisa menjadi masalah atau apakah bisa menjadi titik awal lagi untuk mendorong dosen dan peneliti untuk menulis, karena di ASEAN kita masih kalah dengan malaysia, thailand, dan singapura.
Masalah? kenapa saya bilang masalah, karena scopus dahulunya sudah ada di era yang sudah lampau. kita telat memahaminya dan mencermati. Malaysia sudah selangkah lebih maju. Bahkan ribuan jurnal dalam negeri belanda saja sudah scopus, apalagi di negara lain. bahkan saya menemukan naskah einstein yang masih dalam bentuk tulisan tangan yang sampai hari ini masih banyak distasi. Ini permasalahannya, negara kita terlambat menyadari ini. Dahulu menulis di scopus sangatlah mudah dan tidak membutuhkan dana yang banyak. Saat ini, jika kita masuk ke yang berkualitas dengan tingkatan Q1 maka uang yang dikeluarkan cukup besar. bahkan teman saya harus membayar 25 juta lebih untuk 1 publikasi, dan beruntungnya dosen supervisornya yang membayar. di Indonesia, jurnal yang terindeks scopus masih sedikit, dan hanya bidang bidang disting yang bisa masuk scopus.
masalah lain yang timbul adalah banyaknya project penelitian yang dilkasanakan dan dikerjakan mahasiswa untuk kepentingan dosen. misalnya sudah dapat data kemudian ditulis yang beruntung jadi penulis pertama adalah dosennya bukan mahasiswa. hal ini harusnya dirubah, kontradiktif dengan di luar negeri yang biasanya nama supervisornya hanya di belakang. Celakanya, hal ini berlangsung terus menerus dan menjadi profesor di Indonesia hanya dilihat dari publikasinya saja, tidak lagi dilihat gagasan dan temuannya yang berdampak untuk indonesia.
Jujur saja literasi di indonesia masih sangat rendah, orang dipaksa nulis ya gak nyambung jika minat literasi masih rendah. Jadi kita melihat dorongan untuk meningkatkan publikasi ilmiah hanya sebatas supaya tidak kalah saja dengan negara tetangga. hal ini harus direnungkan lagi oleh pemangku kebijakan. sebut saja profesor yang berasal dari old generation, pemahamannya dalam menulis dikoran, dalam menyuarakan gagasannya sungguh menarik jika dibandingkan menulis jurnal untuk kepenuhan angka kredit saja. di era saat ini GB bisa dicabut karena sudah tidak aktif lagi menulis di jurnal internasional.
oleh karena itu jabatan tertinggi guru besar sudah seharusnya dilihat dari aspek kebermanfaatannya, bukan hanya dilihat dari scopus saja,saya yakin scopus mendulang uang yang besar, bisnisnya semakin maju, karena pasar di Indonesia semakin besar. ya kalau hanya menyetor uang ke luar negeri, sama aja mubazir kan.. Saya sangat mendorong indexing sinta yang dibuat pemerintah bisa berjalan dengan baik dan bisa kemudian hari menjadi indexing untuk parameter guru besar. saya berharap kejadiannya tidak sama dengan portal garuda yang tidak berjalan semestinya.
"optimal bermanfaat mendidik mengajar dengan sepenuh hati berhasil mengubah sdm indonesia yang menjadi driver bukan passenger, maka dia pantas jadi Guru Besar"
kalau kita bicara scopus, saya mengingat definisi ini yang merupakan salah satu gunung di yerussalem. namun nama ini menjadi populer saat ini dikalangan ilmuwan. gak akan jadi GB kalau gak nulis di scopus, begitu kira -kira pemahaman yang terjadi saat ini. Scopus merupakan salah satu indexing bereputasi dari belanda yang juga mempunyai beberapa anak usaha misalnya science direct dan elsevier. dahulu publikasi ilmiah menjadi salah satu sarana mempublikasikan hasil hasil riset, tetapi saat ini sudah mengarah ke bisnis sehingga untuk menerbitkan naskah harus mengeluarkan dana yang tidak juga sedikit.
balik lagi ke inti bahasan kita, mengapa menjadi GB harus ke scopus? pertanyaan ini lah yang muncul sehingga banyak yang menggugat, bahkan ada yang menggugat sampai ke MK, kemudian membuat tulisan tulisan di media cetak. dan isunya jika profesor tidak aktif lagi menulis di jurnal reputasi nasional maka tunjangannya akan dicabut atau dikurangi persentasinya. Ini bisa menjadi masalah atau apakah bisa menjadi titik awal lagi untuk mendorong dosen dan peneliti untuk menulis, karena di ASEAN kita masih kalah dengan malaysia, thailand, dan singapura.
Masalah? kenapa saya bilang masalah, karena scopus dahulunya sudah ada di era yang sudah lampau. kita telat memahaminya dan mencermati. Malaysia sudah selangkah lebih maju. Bahkan ribuan jurnal dalam negeri belanda saja sudah scopus, apalagi di negara lain. bahkan saya menemukan naskah einstein yang masih dalam bentuk tulisan tangan yang sampai hari ini masih banyak distasi. Ini permasalahannya, negara kita terlambat menyadari ini. Dahulu menulis di scopus sangatlah mudah dan tidak membutuhkan dana yang banyak. Saat ini, jika kita masuk ke yang berkualitas dengan tingkatan Q1 maka uang yang dikeluarkan cukup besar. bahkan teman saya harus membayar 25 juta lebih untuk 1 publikasi, dan beruntungnya dosen supervisornya yang membayar. di Indonesia, jurnal yang terindeks scopus masih sedikit, dan hanya bidang bidang disting yang bisa masuk scopus.
masalah lain yang timbul adalah banyaknya project penelitian yang dilkasanakan dan dikerjakan mahasiswa untuk kepentingan dosen. misalnya sudah dapat data kemudian ditulis yang beruntung jadi penulis pertama adalah dosennya bukan mahasiswa. hal ini harusnya dirubah, kontradiktif dengan di luar negeri yang biasanya nama supervisornya hanya di belakang. Celakanya, hal ini berlangsung terus menerus dan menjadi profesor di Indonesia hanya dilihat dari publikasinya saja, tidak lagi dilihat gagasan dan temuannya yang berdampak untuk indonesia.
Jujur saja literasi di indonesia masih sangat rendah, orang dipaksa nulis ya gak nyambung jika minat literasi masih rendah. Jadi kita melihat dorongan untuk meningkatkan publikasi ilmiah hanya sebatas supaya tidak kalah saja dengan negara tetangga. hal ini harus direnungkan lagi oleh pemangku kebijakan. sebut saja profesor yang berasal dari old generation, pemahamannya dalam menulis dikoran, dalam menyuarakan gagasannya sungguh menarik jika dibandingkan menulis jurnal untuk kepenuhan angka kredit saja. di era saat ini GB bisa dicabut karena sudah tidak aktif lagi menulis di jurnal internasional.
oleh karena itu jabatan tertinggi guru besar sudah seharusnya dilihat dari aspek kebermanfaatannya, bukan hanya dilihat dari scopus saja,saya yakin scopus mendulang uang yang besar, bisnisnya semakin maju, karena pasar di Indonesia semakin besar. ya kalau hanya menyetor uang ke luar negeri, sama aja mubazir kan.. Saya sangat mendorong indexing sinta yang dibuat pemerintah bisa berjalan dengan baik dan bisa kemudian hari menjadi indexing untuk parameter guru besar. saya berharap kejadiannya tidak sama dengan portal garuda yang tidak berjalan semestinya.
"optimal bermanfaat mendidik mengajar dengan sepenuh hati berhasil mengubah sdm indonesia yang menjadi driver bukan passenger, maka dia pantas jadi Guru Besar"
Rabu, 09 Januari 2019
Akhirnya Ke Jepang Juga
2017 sebenarnya tahun yang sulit, Ibu saya meninggal dunia. Saya agak down juga, saya masih belum 100 persen siap ditinggal ibu. Namun hidup harus berjalan, saya harus menapaki step step yang akan saya lewati kedepannya tanpa Ibu. 1 bulan saya menetap di padang tanpa banyak aktivitas. bermodalkan laptop lama yang dibelikan ibu saya menyelesaikan beberapa administrasi penelitian, proposal penelitian, editing salah satu jurnal, dan pengiriman adminstrasi buku. Disamping itu, hari -hari yang saya lewati lebih banyak berdiam diri dirumah, kalaupun keluar kerumah hanya untuk sholat dan menyelesaikan administrasi ibu saya di kampus.
setelah lebaran, saya kembali ke kampus, dengan banyak kebingungan-kebingugan. Pertama, saya dikagetkan dengan SK amanah baru, ini diluar dugaan saya, dekan pernah bilang akan ada sesuatu untuk saya, namun saya gak tau apa yang dimaksud beliau. Ternyata amanah baru datang menghampiri di usia saya yang masih sangat muda. yang kedua, saya menerima telepon dari salah satu dosen yang mengajaka saya untuk keJepang. Jujur,waktu itu saya gak tertarik ke Jepang dengan alasan saya gak fokus. Namun, kagetnya saya didorong untuk ikut, untuk membantu beliau juga selama berada di Jepang. Dua hal ini mengagetkan saya, dibalik kesulitan saya masih diberikan kemudahan-kemudahan oleh Allah SWT .
maka saya persiapkan semua sebaik mungkin, naskah yang saya bawa ke Jepang, kemudian mengurus visa, penginapan,dan tiket pesawat. Semuanya Alhamdulillah banyak dibantu oleh ibu tersebut. Alhamdulillah semua proses untuk ke Jepang di lancarkan, tetapi agak rumitnya ketika KTP Padang saya yang mengharuskan saya mengurus visa di medan. dan Alhamdulillah melalui paman saya visa tersebut selesai tepat waktu. tiket yang dipesan juga transit di hongkong, dan begitu juga sebaliknya ketika balik ke Jakarta saya transit kembali melalui Hongkong.
Berkunjung ke Jepang merupakan salah satu impian saya. Bersekolah di Jepang juga impian saya. semua impian ini diawali dari pertama kalinya saya berkunjung ke kota Tokyo. Saya menginap di apartemen di gotanda. selama 15 hari lamanya saya menikmati kota Tokyo yang penuh dengan kerja keras dan kedisiplinan. Mengunjungi beberapa tempat Shinagawa, Ueno, Shibuya, Asakusa, dan beberapa kota yang saya kunjungi penuh dengan kekaguman. Melewati Jepang dengan kereta yamatoline, jalur ginza, dan bus membuat saya terkagum-kagum dengan integrasi transportasinya.
dan saya lebih lagi terkagum dengan Todai (Tokyo daigaku) yang merupakan kampus tertua dan terkenal di Jepang. Saya beroda suatu saat bisa kuliah disini, meskipun hanya numpang riset, saya ingin sekali bisa kuliah di today.
saya juga terkagum-kagum dengan kedisiplinan waktu, ketika saya presentasi saya harus memaksimalkan waktu 15 menit tepat tidak boleh lebih, dan saya dapat presentasi jam 5 sore. Bayangkan jika saya seminar di Indonesia, maka jam tersebut sudah selesai atau diparelkan sekaligus. dan pertanyaan yang dilontarkan juga tidak banyak dan langsung pada subtansi dan tidak bertele-tele.
Bagi saya perjalanan kali ini adalah bagaimana representasi nilai keislaman yang ada di jepang meliputi kedisiplinan dan kerja keras yang sungguh-sungguh. Bagaimana mungkin negara gak beragama ini begitu bisa disiplin. Inilah yang merenungkan saya untuk tetap mengaplikasikan nilai keislaman dalam berbagai aspek kehidupan. dan bekal semangat ini yang saya bawa untuk bersungguh-sungguh dan bekerja keras.
"sesudah kesulitan ada kemudahan, itulah Janji Allah"..
setelah lebaran, saya kembali ke kampus, dengan banyak kebingungan-kebingugan. Pertama, saya dikagetkan dengan SK amanah baru, ini diluar dugaan saya, dekan pernah bilang akan ada sesuatu untuk saya, namun saya gak tau apa yang dimaksud beliau. Ternyata amanah baru datang menghampiri di usia saya yang masih sangat muda. yang kedua, saya menerima telepon dari salah satu dosen yang mengajaka saya untuk keJepang. Jujur,waktu itu saya gak tertarik ke Jepang dengan alasan saya gak fokus. Namun, kagetnya saya didorong untuk ikut, untuk membantu beliau juga selama berada di Jepang. Dua hal ini mengagetkan saya, dibalik kesulitan saya masih diberikan kemudahan-kemudahan oleh Allah SWT .
maka saya persiapkan semua sebaik mungkin, naskah yang saya bawa ke Jepang, kemudian mengurus visa, penginapan,dan tiket pesawat. Semuanya Alhamdulillah banyak dibantu oleh ibu tersebut. Alhamdulillah semua proses untuk ke Jepang di lancarkan, tetapi agak rumitnya ketika KTP Padang saya yang mengharuskan saya mengurus visa di medan. dan Alhamdulillah melalui paman saya visa tersebut selesai tepat waktu. tiket yang dipesan juga transit di hongkong, dan begitu juga sebaliknya ketika balik ke Jakarta saya transit kembali melalui Hongkong.
Berkunjung ke Jepang merupakan salah satu impian saya. Bersekolah di Jepang juga impian saya. semua impian ini diawali dari pertama kalinya saya berkunjung ke kota Tokyo. Saya menginap di apartemen di gotanda. selama 15 hari lamanya saya menikmati kota Tokyo yang penuh dengan kerja keras dan kedisiplinan. Mengunjungi beberapa tempat Shinagawa, Ueno, Shibuya, Asakusa, dan beberapa kota yang saya kunjungi penuh dengan kekaguman. Melewati Jepang dengan kereta yamatoline, jalur ginza, dan bus membuat saya terkagum-kagum dengan integrasi transportasinya.
dan saya lebih lagi terkagum dengan Todai (Tokyo daigaku) yang merupakan kampus tertua dan terkenal di Jepang. Saya beroda suatu saat bisa kuliah disini, meskipun hanya numpang riset, saya ingin sekali bisa kuliah di today.
saya juga terkagum-kagum dengan kedisiplinan waktu, ketika saya presentasi saya harus memaksimalkan waktu 15 menit tepat tidak boleh lebih, dan saya dapat presentasi jam 5 sore. Bayangkan jika saya seminar di Indonesia, maka jam tersebut sudah selesai atau diparelkan sekaligus. dan pertanyaan yang dilontarkan juga tidak banyak dan langsung pada subtansi dan tidak bertele-tele.
Bagi saya perjalanan kali ini adalah bagaimana representasi nilai keislaman yang ada di jepang meliputi kedisiplinan dan kerja keras yang sungguh-sungguh. Bagaimana mungkin negara gak beragama ini begitu bisa disiplin. Inilah yang merenungkan saya untuk tetap mengaplikasikan nilai keislaman dalam berbagai aspek kehidupan. dan bekal semangat ini yang saya bawa untuk bersungguh-sungguh dan bekerja keras.
"sesudah kesulitan ada kemudahan, itulah Janji Allah"..
Tes CPNS
Kali ini saya ingin membahas tes cpns yang dilaksanakan pada tahun ini. Mengingatkan saya akan setahun yang lalu saya mengikuti tes cpns. tes cpns ini terbilang unik, karena tes ini menurut saya banyak tantangannya, salah satunya karena harus melewati proses tahap pertama , yaitu SKD (kompetensi dasar).
Tes CPNS tahun 2017 bukanlah tes pertama yang saya ikuti. Saya pernah mengikuti tes cpns pada tahun 2014, waktu itu pertama kali tes CAT digunakan. Tes berbasis komputer dan penilaian langsung dilihat di layar setelah tes selesai. kita langsung mengetahui les atau tidak. Tahun 2014, saya agak gugup untuk tes ini, pertama persiapan yang kurang karena aktivitas yang tinggi saat itu. Tes tahun 2014 ini saya tidak beruntung, karena ada yang tidak sesuai passing grade meskipun nilai saya luamyan tinggi. Tidak membaca medan dan berstrategi, maka gagal lah saya merantau ke kepulauan riau. Disana kebetulan banyak teman, karena alumni IPB banyak berkumpul disana.
Agak lama juga setelah itu tidak ada lagi tes CPNS, maka tahun 2017 tes cpns dibuka kembali. Kali ini saya malas mengiktuinya, entah kenapa waktu itu tidak tertarik sama sekali. Diwaktu itu saya memang lagi disibukkan dengan tugas yang begitu banyak dan juga urusan pribadi yang penting. hehee. Niat saya menikah sudah bulat, sebelum ke Jepang saya sudah harus melamar calon istri. Disaat itu, memang saya memepersiapkan diri ke Jepang mengikuti konference dan juga berkunjung ke kampus dosen saya, dengan berharap ada kesempatan untuk s3 disana. Saat di Jepang, saya tidak sengaja bertemu dengan para peneliti BPPT yang juga alumni IPB. Saya banyak bertanya tentang BPPT, dan beliau sempat berujar bahwa BPPT buka formasi CPNS. Hal ini juga menjadi bahan masukan dan pikiran juga bagi saya, karena yang saya tahu formasi dosen yang jadi idaman saya banyak dibuka di daerah Indonesia bagian timur. Maka H-1 sebelum pendaftaran ditutup, saya bekonsultasi dengan adik saya yang ada di padang untuk mendaftarkan saya untuk tes CPNS. lucunya, nomor KTP saya tidak masuk dalam pendaftaran, sehingga agak menyerah juga waktu itu. Ternyata adik saya mengecek kembali nomor KTP tersebut dan mencocokkan juga dengan KK, sehingga terlihat ada perbedaan. Maka dilarut malam sebelum pendaftaran ditutup adik saya berhasil log in dan singkatnya semua persyaratan dinyatakan lengkap. Kenapa BPPT? kenapa tidak ke kemenristekdikti? jawaban saya simpel, waktu itu yang menerima berkas online dan tidak berbelit-belit hanya BPPT...hehee
Disaat waktu tes, saya juga gak terlalu mempersiapkan diri. Musim akreditasi jurusan dan ngajar sangat menyita waktu sehingga saya tidak well prepare dalam menghadapi tes kali ini. Namun disaat kepasrahan itu, teman saya waktu itu mengingatkan bahwa persiapan itu penting, minimal kamu punya bahan untuk ujian. Saran teman itu yang menjadi motivasi saya untuk bisa semangat tes, minimal saya baca-baca sedikit, dari banyak buku yang menulis terkait kisi-kisi lulus tes cpns :D.
disaat tes, saya dapat jam 4 sore, waktu yang sudah larut dan konsentrasi menurun. dari 100 soal banyak yang terlewat, saya hanya banyak menebak. kisi-kisi yang dibaca tidak sesuai :D, taraf soal juga sulit. Ketika tes berakhir, saya hanya melihat sekilas nilainya, gak seperti tes sebelumnya yang saya lihat dengan cermat. Diluar ada layar yang menampilkan hasil, saya melihat saya lulus passing grade, namun itu belum cukup jika ada beberapa orang yang lulus diatas saya, maka saya juga bisa gugur. saya lupakan saja, dan kembali ke bogor.
Waktu dinas di Yogyakarta ke UGM, malamnya teman-teman saya yang tes sudah keluar hasilnya, Kebetulan KKP dluan yang keluar, dan teman saya lulus tahap awal. betapa senangnya, sedangkan saya sudah tidak memikirkan hasilnya. dengan 1 formasi yang dibuhkan peluang saya sangat tipis sekali. Akhirnya hasil tes keluar, dan saya dinyatakan ikut tes selanjutnya. Alhamdulillah, disini saya mulai serius untuk berperang :D.
Beberapa tes sudah dilalui, kemampuan bidang, psikologi, dan terakhir ditutup dengan wawancara. Wawancara yang saya lalui scientific sekali, kebetulan yang wawancara langsung direkturnya (waktu itu saya gak tau)... :D
Wawancara yang scientific dan mengupas tesis yang sudah saya lupakan 3 tahun yang lalu menghabiskan waktu hampir 30 menit. ya saya pasrah, kalau gak lulus ya berarti saya tetap lanjut pengabdian di tempat saya bekerja.
setelah beberapa hari keluarlah pengumuman, saya diberitahu teman saya lulus.. Alhamdulillah saya langsung sujud syukur, betapa beratnya tes cpns untuk BPPT, karena banyak yang pintar-pintar dan masih fresh graduate. Karena di BPPT banyak sekali tes SKD dan SKB yang mencapai niali 400. Tahun ini saja ada yang SKBnya perfect, sangat mengagumkan.
tahun ini CPNS sangat berbeda, karena jika tidak lulus passing grade maka ada sistem perankingan berdasarkan peraturan menteri. Hal ini sangat menguntungkan. Tahun 2017, untuk bidang saya banyak yang gak lulus menjadi dosen di SKD. Tahun ini semua terselamatkan karena aturan baru ini, sehingga sangat beruntung bisa jadi auto CPNS, meskipun dibeberpa kementerian dan BPPT persentase kelulusan passing gradenya sangat tinggi.
Begitu banyak rakyat indonesia yang ingin jadi PNS, meskipun era milleneals saat ini bukan jamannya, namun itupun tidak menyurutkan orang untuk ikut tes. hampir jutaan orang yang mengikuti, dan hanya sedikit yang diambil. Tapi begitulah, menjadi pegawai pemerintah masih jadi primadona, karena pesan orang tua bahwa menjadi PNS diuntungkan dengan adanya pensiun.
Tes CPNS tahun 2017 bukanlah tes pertama yang saya ikuti. Saya pernah mengikuti tes cpns pada tahun 2014, waktu itu pertama kali tes CAT digunakan. Tes berbasis komputer dan penilaian langsung dilihat di layar setelah tes selesai. kita langsung mengetahui les atau tidak. Tahun 2014, saya agak gugup untuk tes ini, pertama persiapan yang kurang karena aktivitas yang tinggi saat itu. Tes tahun 2014 ini saya tidak beruntung, karena ada yang tidak sesuai passing grade meskipun nilai saya luamyan tinggi. Tidak membaca medan dan berstrategi, maka gagal lah saya merantau ke kepulauan riau. Disana kebetulan banyak teman, karena alumni IPB banyak berkumpul disana.
Agak lama juga setelah itu tidak ada lagi tes CPNS, maka tahun 2017 tes cpns dibuka kembali. Kali ini saya malas mengiktuinya, entah kenapa waktu itu tidak tertarik sama sekali. Diwaktu itu saya memang lagi disibukkan dengan tugas yang begitu banyak dan juga urusan pribadi yang penting. hehee. Niat saya menikah sudah bulat, sebelum ke Jepang saya sudah harus melamar calon istri. Disaat itu, memang saya memepersiapkan diri ke Jepang mengikuti konference dan juga berkunjung ke kampus dosen saya, dengan berharap ada kesempatan untuk s3 disana. Saat di Jepang, saya tidak sengaja bertemu dengan para peneliti BPPT yang juga alumni IPB. Saya banyak bertanya tentang BPPT, dan beliau sempat berujar bahwa BPPT buka formasi CPNS. Hal ini juga menjadi bahan masukan dan pikiran juga bagi saya, karena yang saya tahu formasi dosen yang jadi idaman saya banyak dibuka di daerah Indonesia bagian timur. Maka H-1 sebelum pendaftaran ditutup, saya bekonsultasi dengan adik saya yang ada di padang untuk mendaftarkan saya untuk tes CPNS. lucunya, nomor KTP saya tidak masuk dalam pendaftaran, sehingga agak menyerah juga waktu itu. Ternyata adik saya mengecek kembali nomor KTP tersebut dan mencocokkan juga dengan KK, sehingga terlihat ada perbedaan. Maka dilarut malam sebelum pendaftaran ditutup adik saya berhasil log in dan singkatnya semua persyaratan dinyatakan lengkap. Kenapa BPPT? kenapa tidak ke kemenristekdikti? jawaban saya simpel, waktu itu yang menerima berkas online dan tidak berbelit-belit hanya BPPT...hehee
Disaat waktu tes, saya juga gak terlalu mempersiapkan diri. Musim akreditasi jurusan dan ngajar sangat menyita waktu sehingga saya tidak well prepare dalam menghadapi tes kali ini. Namun disaat kepasrahan itu, teman saya waktu itu mengingatkan bahwa persiapan itu penting, minimal kamu punya bahan untuk ujian. Saran teman itu yang menjadi motivasi saya untuk bisa semangat tes, minimal saya baca-baca sedikit, dari banyak buku yang menulis terkait kisi-kisi lulus tes cpns :D.
disaat tes, saya dapat jam 4 sore, waktu yang sudah larut dan konsentrasi menurun. dari 100 soal banyak yang terlewat, saya hanya banyak menebak. kisi-kisi yang dibaca tidak sesuai :D, taraf soal juga sulit. Ketika tes berakhir, saya hanya melihat sekilas nilainya, gak seperti tes sebelumnya yang saya lihat dengan cermat. Diluar ada layar yang menampilkan hasil, saya melihat saya lulus passing grade, namun itu belum cukup jika ada beberapa orang yang lulus diatas saya, maka saya juga bisa gugur. saya lupakan saja, dan kembali ke bogor.
Waktu dinas di Yogyakarta ke UGM, malamnya teman-teman saya yang tes sudah keluar hasilnya, Kebetulan KKP dluan yang keluar, dan teman saya lulus tahap awal. betapa senangnya, sedangkan saya sudah tidak memikirkan hasilnya. dengan 1 formasi yang dibuhkan peluang saya sangat tipis sekali. Akhirnya hasil tes keluar, dan saya dinyatakan ikut tes selanjutnya. Alhamdulillah, disini saya mulai serius untuk berperang :D.
Beberapa tes sudah dilalui, kemampuan bidang, psikologi, dan terakhir ditutup dengan wawancara. Wawancara yang saya lalui scientific sekali, kebetulan yang wawancara langsung direkturnya (waktu itu saya gak tau)... :D
Wawancara yang scientific dan mengupas tesis yang sudah saya lupakan 3 tahun yang lalu menghabiskan waktu hampir 30 menit. ya saya pasrah, kalau gak lulus ya berarti saya tetap lanjut pengabdian di tempat saya bekerja.
setelah beberapa hari keluarlah pengumuman, saya diberitahu teman saya lulus.. Alhamdulillah saya langsung sujud syukur, betapa beratnya tes cpns untuk BPPT, karena banyak yang pintar-pintar dan masih fresh graduate. Karena di BPPT banyak sekali tes SKD dan SKB yang mencapai niali 400. Tahun ini saja ada yang SKBnya perfect, sangat mengagumkan.
tahun ini CPNS sangat berbeda, karena jika tidak lulus passing grade maka ada sistem perankingan berdasarkan peraturan menteri. Hal ini sangat menguntungkan. Tahun 2017, untuk bidang saya banyak yang gak lulus menjadi dosen di SKD. Tahun ini semua terselamatkan karena aturan baru ini, sehingga sangat beruntung bisa jadi auto CPNS, meskipun dibeberpa kementerian dan BPPT persentase kelulusan passing gradenya sangat tinggi.
Begitu banyak rakyat indonesia yang ingin jadi PNS, meskipun era milleneals saat ini bukan jamannya, namun itupun tidak menyurutkan orang untuk ikut tes. hampir jutaan orang yang mengikuti, dan hanya sedikit yang diambil. Tapi begitulah, menjadi pegawai pemerintah masih jadi primadona, karena pesan orang tua bahwa menjadi PNS diuntungkan dengan adanya pensiun.
Selasa, 08 Januari 2019
Membangun Narasi dengan Perspektif
Hari ini kita memasuki tahun 2019 yang penuh dengan intensitas politik yang sangat tinggi. Begitu tinggi tensinya hingga berbagai kalimat yang muncul, kemudian diserang, dilaporkan, dan di bully. hal ini sungguh memprihatinkan, demokrasi dkukung oleh kedangkalan berpikir dan mencermati sebuah aksi. Reaksi yang ditonjolkan begitu reaktif, tidak responsif hingga akhirnya petarungan politik menjadi kosong, dan menghilangkan bagian adu program.
kondisi ini pernah terjadi di lingkungan kampus. Politik kampus juga erat kaitannya juga dengan perang ideologi, perang kepentingan golongan, dsb. sehingga adu gagasan adu program menjadi hambar. hasilnya terlihat, ketika dipilih banyak sekali protes sana sini hingga gak berujung. instrumen kecil saja bermasalah, apalagi negara. di era saat ini yang mengedepankan era menuju revolusi industri 4.0, hal ini menjadi permasalahan serius ketika media sosial mulai menyebar. orang dulu kampanye hanya menggunakan spanduk, sekarang sudah ada grup media sosial yang memudahkan. ini bisa positif dan bisa negatif, dan banyak negatifnya.
Membangun narasi politik yang baik penting, berbagai pandangan terkait data, interpretasi data tentunya akan di kaji dengan berbagai perspektif dan keilmuan. berbeda pendapat sah -sah saja, asal menggunakan argumen yang bertanggung jawab. Namun kontradiktif, semua menjadi salah salahan ketika pandangan A diuji ke publik,, begitu juga pandangan B diuji ke Publik. Semua saling serang, bahkan kalimat kasar juga terlontar. beginikah demokrasi kita hari ini?
hal ini menjadi renungan kita semua, sebab generasi kedepan tentunya harus bisa selektif dalam memilih dan mencermati. kedepannya jangan sampai lahir pemimpin yang hanya sebatas memenuhi satu kepentingan saja, bukan kepentingan bangsa. seperti saat ini cebong kampret yang sebenarnya gak layak untuk dipopulerkan.
oleh karena itu, kedepannya kita harus siap berbeda pandangan, berbeda pendapat, jadikan itu istimewa, karena perspektif yang berbeda memperkaya ketajaman demokrasi di Indonesia.
kondisi ini pernah terjadi di lingkungan kampus. Politik kampus juga erat kaitannya juga dengan perang ideologi, perang kepentingan golongan, dsb. sehingga adu gagasan adu program menjadi hambar. hasilnya terlihat, ketika dipilih banyak sekali protes sana sini hingga gak berujung. instrumen kecil saja bermasalah, apalagi negara. di era saat ini yang mengedepankan era menuju revolusi industri 4.0, hal ini menjadi permasalahan serius ketika media sosial mulai menyebar. orang dulu kampanye hanya menggunakan spanduk, sekarang sudah ada grup media sosial yang memudahkan. ini bisa positif dan bisa negatif, dan banyak negatifnya.
Membangun narasi politik yang baik penting, berbagai pandangan terkait data, interpretasi data tentunya akan di kaji dengan berbagai perspektif dan keilmuan. berbeda pendapat sah -sah saja, asal menggunakan argumen yang bertanggung jawab. Namun kontradiktif, semua menjadi salah salahan ketika pandangan A diuji ke publik,, begitu juga pandangan B diuji ke Publik. Semua saling serang, bahkan kalimat kasar juga terlontar. beginikah demokrasi kita hari ini?
hal ini menjadi renungan kita semua, sebab generasi kedepan tentunya harus bisa selektif dalam memilih dan mencermati. kedepannya jangan sampai lahir pemimpin yang hanya sebatas memenuhi satu kepentingan saja, bukan kepentingan bangsa. seperti saat ini cebong kampret yang sebenarnya gak layak untuk dipopulerkan.
oleh karena itu, kedepannya kita harus siap berbeda pandangan, berbeda pendapat, jadikan itu istimewa, karena perspektif yang berbeda memperkaya ketajaman demokrasi di Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
