Rabu, 26 Januari 2022

Riset Soft Gel Rumput Laut

 https://www.brin.go.id/kebutuhan-suplemen-kapsul-meningkat-brin-kembangkan-riset-kapsul-lunak-rumput-laut/



Konsumsi suplemen dan multivitamin masyarakat Indonesia selama pandemi Covid-19 meningkat. Peningkatannya turut memengaruhi lonjakan kebutuhan suplemen dan multivitamin kemasan berbentuk kapsul. Bentuk kapsul yang diminati berupa cangkang kapsul maupun kapsul lunak. Kebutuhan kapsul lunak (soft capsule) sendiri mencapai tiga miliar butir per tahunnya, dimana 90% diantaranya masih didominasi dari bahan gelatin hewani.

Tingginya penggunaan gelatin pada kapsul lunak, sejatinya bisa disubstitusi dengan penggunaan bahan berbasis vegetable (sayuran) yang bisa ditemukan di tumbuhan rumput laut sebagai bahan dasarnya. Terlebih Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah Tiongkok, dengan volume ekspor tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai mencapai USD 279,58 juta (data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan).

Melimpahnya ketersediaan bahan baku serta potensi yang besar dari rumput laut, tim periset dari Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memutuskan melakukan riset aplikatif untuk produk bernilai tambah dari rumput laut, yaitu pengembangan kapsul lunak berbasis rumput laut.

Pada bulan Desember 2021 lalu, tim periset BRIN akhirnya berhasil menemukan formulasi yang tepat untuk digunakan dalam skala industri. Tim ini telah berhasil menghasilkan prototipe kapsul lunak yang diinginkan.

Periset PTA BRIN Taufik Hidayat mengatakan timnya berhasil menghasilkan kapsul lunak dengan elastisitas tinggi, tingkat daya rekat yang baik, tidak berbau, dan tidak bocor.

Taufik yang memiliki keahlian di bidang teknologi hasil perairan, khususnya rumput laut, langsung dipercayakan masuk ke dalam riset pengembangan kapsul keras dan kapsul lunak. Pada 2019 lalu, ia juga membantu dalam uji stabilitas cangkang kapsul rumput laut BPPT telah berhasil diserap oleh industri, yakni PT Kapsulindo Nusantara.

“Untuk mendapatkan karakteristik tersebut, tim melakukan kajian terkait aspek bahan baku dan komposisi formula yang dapat digunakan untuk menghasilkan kapsul lunak. Akhirnya didapatkan kombinasi karagenan yang sesuai untuk dikembangkan di skala Industri,” ujar Taufik yang menyelesaikan Sarjana dan Magisternya di Departemen Teknologi Hasil Perairan Institut Pertanian Bogor.

Ia menambahkan keunggulan menggunakan karagenan yaitu memiliki viskositas dan elastisitas yang tinggi, serta dipastikan halal untuk konsumen vegetarian.

Taufik sendiri optimis dengan hasil riset yang dilaksanakan oleh timnya. Ia mengklaim bahwa kapsul lunak berbasis tumbuhan ini akan lebih tepat serta optimal untuk membungkus bahan aktif (isian kapsul) yang juga berasal dari tumbuhan, seperti vitamin non-hewani, jamu, obat herbal, dan fitofarmaka.

Teknologi Pengembangan Kapsul Lunak

Saat ini tren market dan masyarakat vegan sangat meningkat, bahkan populasinya mencapai 70% hampir diseluruh wilayah asia pasifik, bahkan sampai ke Indonesia. “Tren kapsul lunak  juga mulai diminati oleh pelaku industri di dunia, bahkan industri kapsul besar di Tiongkok memprediksi pada tahun 2025 kapsul berbasis non gelatin menjadi salah satu segmen yang paling menguntungkan,” ujarnya.

Dengan adanya riset yang dilakukan secara berkesinambungan oleh periset BRIN, diharapkan dapat menciptakan kapsul lunak rumput laut yang sesuai dengan standar farmakope dan BPOM sehingga siap untuk dikomersialkan dan dipasarkan kepada masyarakat.

Pembuatan kapsul lunak di Indonesia sendiri dikatakan Taufik merupakan teknologi yang advance. Hal ini dikarenakan proses enkapsulasi dan pembentukan prototipe dibutuhkan mesin.

Dirinya menjelaskan pembuatan kapsul lunak berbasis rumput laut dimulai dari optimasi formulasi skala lab yang dilakukan di lab Pengolahan Perikanan Agroindustri, kemudian dilanjutkan dengan produksi langsung di lokasi pabrik mitra industri.

“Mencari mitra yang mau mengembangkan kapsul lunak tidaklah mudah. Hingga akhirnya kami mendapatkan mitra yang cocok dan tertantang untuk mengembangkan kapsul lunak berbasis rumput laut ini,” ungkap Arief. “Alhamdulillah kami telah melakukan kerjasama dengan PT Nova Chemie Utama (NCU) dan kerjasama ini masih berlanjut dengan harapan produk ini bisa dikomersialkan dan mengisi pasar domestik maupun luar negeri,” pungkasnya (sas, arf, rvl/ ed: drs)

Kamis, 23 Desember 2021

Kamis, 23 September 2021

Menghidupkan Organisasi, Kunci dalam Berorganisasi

 Menghidupkan Organisasi, Kunci dalam Berorganisasi 


Organisasi diciptakan untuk menyelesaikan masalah, berkumpul dalam satu frekuensi yang sama, yang pada intinya menghadirkan solusi bagi orang banyak. Pemikirian satu orang belum cukup, perlu banyak isi dari pemikiran banyak orang, itulah organisasi.  saat ini Indonesia banyak hadir organisasi, bahkan asosiasi profesi sampai bidang terkecil pun dihadirkan. Tapi pada intinya organisasi yang hadir ini apakah betul menyelesaikan masalah, atau menambah masalah baru ?


Beberapa pekan ini saya agak sedikit termenung dengan banyaknya organisasi organisasi yang muncul, dengan bidang fokus yang sama, bahkan seakan replikasi. Banyak jumlahnya, tetapi setelah ditelusuri banyak yang mati suri, tidak bergerak, hanya tinggal nama. Apa yang jadi masalahnya? apakah kekuasaan, atau hanya sebagai batu loncatan untuk dikenal, dan atau hanya sekedar untuk menambah pekerjaan sampingan? pertanyaan ini banyak muncul karena baik organisasi yag dibentuk atas itikat politik, sosial, ataupun science semuanya akan terbentur dengan masalah yang dinamakan organisasi tidak bergerak.


Saya merasakah betul beratnya menggerakkan roda organisasi, memang sedikit orang tapi mau bekerja semua yang disolusikan pasti akan tercapai, namun terkadang agak sedikit terbalik, banyak yang ingin dikenal tetapi tidak banyak bekerja. Yang hanya bunyi adalah suaranya, dia berperan, dia begini, dia begitu, tetapi sebenarnya suaranya yang nyaring tidak sebesar kerjanya. sehingga banyak disebut Tong Kosong Nyaring BUnyinya. 


Hari ini, kita melihat organisasi bukan sebagai tempat menyelesaikan masalah, tetapi menimbulkan masalah baru. Duplikasi, Dwi kekuasaan, dll... kita banyak temui organisasi yang mempunyai kepengurusan ganda,dan atau tinggal hanya nama saja.


Semoga kedepan kita berorganisasi bisa menghasilkan sesuatu untuk bangsa, katakanlah bisa menyerupai organisasi yang ada di eropa, misalny Inggris dengan Royal Society, tempat berkumpulnya para ahli yang memang mempunyai kontribusi bagi kemajuan peradaban. 


Akhirnya, seperti kata Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah, " Hidupkanlah Muhammadiyah, Jangan cari penghidupan di Muhammadiyah "


*opini pribadi 

Kamis, 12 Agustus 2021

Pendidikan Kita

 Menurut Professor Harvard dalam mensurvei anak anak jakarta dibawah 15 tahun, perlu 128 tahun untuk bisa sama dengan anak anak di negara maju. Hal ini juga diperkuat kembali oleh pak Presiden melalui staf khusus milineal yang juga dari Ruang Guru.  Hal ini memang sunggu mengejutkan dan mengkhawatirkan. Jika Ki Hajar Dewantara masih hidup, tak terbayang gusarnya beliau dari hasil survei ini. Belum lagi, saat ini pandemi covid-19 yang entah kapan berakhir. 


Pernyataan ini memang membuat saya termenung dan juga mengiyakan dari hal tersebut. Selama pandemi covid-19 ini, daerah sekitar saya sangat banyak berseliweran sampai larut malam. Kagetnya, anak tersebut memang rata-rata dibawah 15 tahun. Apa tidak dicari orang tua? ini selalu menjadi pertanyaan saya, sampai-sampai banyak yang mengusulkan untuk membuka sekolah. Disamping itu, rata-rata di waktu sekolah  banyak digunakan untuk bermain burung dan nogkrong -nongkrong. Saya juga gak tau, apakah tidak banyak PR di sekolah dari gurunya atau bagaimana? makin banyak pertanyaan yang terbesit dengan kondisi pendidikan kita saat ini.


Kita banyak berharap dengan mas menteri untuk membereskan masalah ini, kualitas pendidikan kita memang kembali ke basic, bagaimana mengupayakan sistem pendidikan yang cocok dan sesuai. Belum lagi saya memang mengkritik sekali untuk kartu jakarta pintar yang terkadang salah sasaran dan tidak tepat. Sudah sekolah gratis dikasih KJP, dan ini bukan untuk pintar tapi malah membodohkan dan kontrol orang tua juga lost. Ada beebrapa anak KJP yang tinggal kelas tapi masih diberikan kjp, dan ada juga orang tua yang memanfatkan KJP ini untuk belanja kosmetik, dll. Jika memang untuk pintar ya berikan kepada anak yang berprestasi, kalau tidak mampu jangan kartu jakarta pintar, tapi bisa bantuan untuk belajar dll. Saya memang belum lihat dari data, sejauh mana efektifitasnya untuk membuat anak menjadi pintar.


Oleh karena itu, memang berat sekali untuk  mengejar ketertinggalan 128 tahun. Upaya jalan pintas harus dilakukan, adanya ruang guru, dan media belajar yang sifatnya teknologi ini harus bisa difasilitasi pemerintah. Guru guru juga bisa memandu dengan baik. Sistem belajar sekarang harus adaptif dengan perkembanga arus zaman. Full day school dulu banyak dikecam, tapi terkadang ada baiknya juga dalam beberapa perspektif. Tapi, yaitu memang berat untuk bisa change, sehingga saya sebagai orang tua juga sekarang sudah menyiapkan ancang -ancang dan strategi. 


*opini pribadi 

Sabtu, 07 Agustus 2021

Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini

 


https://bogor.tribunnews.com/2017/12/02/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini?page=2


TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), salah satu ikan laut Indonesia yang sering dikonsumsi dengan berbagai metode pengolahan.

Penggorengan merupakan metode yang sangat disukai di Indonesia karena menghasilkan rasa yang khas termasuk pada ikan kembung.

Akan tetapi belum ada informasi metode penggorengan dapat merubah kandungan vitamin dan mineral ikan kembung.



Artikel ini telah tayang di TribunnewsBogor.com dengan judul Ingin Ikan Goreng Tetap Kaya Gizi, Ikuti Cara Peneliti IPB Ini, https://bogor.tribunnews.com/2017/12/02/ingin-ikan-goreng-tetap-kaya-gizi-ikuti-cara-peneliti-ipb-ini.

leh karenanya empat orang peneliti dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ( FPIK IPB), Nurjanah, Mala Nurilmala, Reza Febriyansyah dan Taufik Hidayat mencoba meneliti hal tersebut.

Tujuan penelitian ini menentukan pengaruh yang terjadi pada kandungan vitamin A, B12, dan mineral ikan kembung (Ca, Na, K, Fe, Zn, dan Se) setelah digoreng dalam deep fryer.

Ikan kembung yang digunakan adalah ikan kembung lelaki yang diperoleh dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada September 2013 di tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu.

Sampel dimasukkan dalam cool box dengan diberi es curai untuk menjaga kesegaran selama proses transportasi.

Sampel dipreparasi hingga menghasilkan fillet dengan rata-rata panjang 8,5 centimeter, lebar 2,5 centimeter, dan tebal 0,8 centimeter ketika sampai di laboratorium.

Dalam proses pengogrengan digunakan minyak goreng sebanyak 4 liter.

Daging ikan kembung digoreng selama 5 menit pada suhu 180 derajat Liter menggunakan deep fryer.







Memanfaatkan Kerang Bulu sebagai Bahan Baku Alternatif untuk Saus Tiram


sumber : https://blog.elevenia.co.id/memanfaatkan-kerang-bulu-sebagai-bahan-baku-alternatif-untuk-saus-tiram/

 Apa kamu telah mengenal kerang bulu? Jika belum kerang bulu adalah kerang yang memiliki bentuk mirip dengan kerang dara, tetapi memiliki bulu-bulu pendek berwarna kehitaman. Agar aman dikonsumsi kerang bulu harus dibersihkan secara maksimal agar kotoran yang terdapat pada bulu-bulunya terbuang dengan baik. Kamu pun bisa merebusnya dua kali dengan air rebusan yang beda untuk kebersihan yang lebih terjamin dan membuat cangkangnya mudah terbuka.

Kerang bulu kini lagi marak dijadikan bahan utama alternatif untuk saus tiram. Saus tiram adalah bumbu yang sering kali digunakan untuk penyedap makanan sehari-hari. Namun, saus tiram memiliki harga yang menjulang karena bahan utamanya yaitu kerang tiram adalah kerang yang berasal dari luar negeri. Untuk menyiasatinya mulai lah digadang-gadang kerang bulu menjadi alternatif bahan utama dari saus tiram. Selain lebih mudah ditemukan di Indonesia, kerang bulu pun harga jauh lebih murah dibandingkan dengan kerang tiram.

Kerang bulu memiliki gizi yang tidak kalah baiknya dibandingkan dengan jenis kerang lainnya. Menurut para dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, kerang bulu mengandung asam amino glutamate, omega 6, dan asam lemak omega 3 yang tinggi.

Jadi jangan ragu lagi untuk menikmati saus tiram dengan bahan dasar kerang bulu ya! Dijamin memiliki khasiat yang baik untuk tubuh mu.

Selasa, 27 Juli 2021

Industri Perikanan, Bisa Apa?





 Komisi IV DPR tiba tiba mengundang rapat Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia terkait masalah sarana prasana dan keluatan perikanan di Indonesia. Kebetulan saya mewakili MPHPI untuk memaparkan permasalahan kelautan dan perikanan terutama untuk bidang industri perikanan. Ini merupakan suatu kehormatan dan kesempatan penting untuk memaparkan sejauh mana kondisi industri perikanan di Indonesia. Kesempatan ini saya gunakan untuk menchalange anggota DPR untuk bisa peduli kepada konstituen nya di daerah, terutama menyelamatkan kondisi UMKM bidang pengolahan perikanan yang puluhan ribu jumlahnya. 


Perlu anda ketahui bahwa jumlah UMKM bergerak di bidang pengolahan perikanan adalah 68.000-an (98%), dan real yang berjalan ada sekitar 48.000-an. Artinya hampir 98% usaha yang bergerak dibidang perikanan sifatnya UMKM dan industri kecil berbasis rumah tangga. Dalam industri global bidang pertanian, sektor perikanan menyumbangkan 15 % sehingga memang sangat potensial dalam menyumbang PDB nasional.  Masalah ini sampai saat ini tidak disentuh secara komperhensif, meskipun kita sadar bahwa sektor hulu ini juga masalahnya juga banyak, berantakan, dan sampai saat ini juga mempengaruhi sektor hilir. katakanlah terkait dengan kondisi nelayan kecil, ilegal fishing, dan juga masalah sarana dan prasarana. Menjadi kompelks dan saya rasa sudah berapa puluh tahun kementerian ini didirikan, tidak selesai-selesai. berubah kebijakan, menterinya bermasalah, menyebabkan kementetian ini tidak punya goal yang jelas untuk memajukan sektor perikanan dan kelautan. 

Kembali dengan sektor UMKM tadi, hadirnya UU cipta kerja menimbulkan beberapa banyak pertanyaan, Ok lah untuk mempercepat investasi, tetapi pertanyaan kembali lagi investasi untuk siapa? apakah ada jaminan bagi investor? apakah UU ini menyelesaikan beberapa permasalahan kelautan dan perikanan? jawabannya masih belum jelas, karena turunan aturan ini sungguh akan melahirkan keputusan menteri yang banyak. Hal ini menjadi bertanya -tanya lagi.. ketidak pastian regulasi apakah akan menjadi penghambat lagi? apakah angan -angan UMKM naik kelas apakah akan tercapai? pertanyaan demi pertanyaan akan muncul, mengingat industri kecil kita saat ini juga dihantam pandemi covid-19, bahan baku infrastruktur dan juga pendidikan dan pengetahuan pelaku usaha kita yang terbatas. Saya menyoroti tajam regulasi bagi UMKM yang harus mempunyai sertifikat kelayakan pengolahan atau saat ini berganti nama GMP sertified. Apakah UMKM kita mampu memenuhi hal tersebut? apalagi jika tidak punya sanksinya cukup berat, dikenakan denda yang sangat besar. apakah 68.000 an UMKM ini komit harus perlu GMP sertified ini. Mereka hanya berpikir bagaimana usahanya laku dapat duit dan bisa sekolahkan anak, hanya itu tidak memikirkan apakah bangunan usahanya layak, sanitasi higiene, dan juga pengetahuan mutu. Justru berbahayanya regulasi mewajibakan UMKM ini akan membinasakan UMKM sendiri. dan saya miris, bahwa anggota DPR juga banyak tidak tau, dan terkesan hanya mengejar program KKP yang bombastis yaitu pnbp 12 t dari tangkap yang menurut saya target itu jauh panggang dari api, itung-itungan yang belum pas antar kabupaten provinsi dan pusat, kemudian aturan transhipment, dan belum lagi data-yang dipunya pemerintah yang tidak pas itungannya,sehingga banyak yang meragukan. belum lagi target ekspor udang 2juta ton, tapi banyak tambak yang mangkrak dan industri pakan yang masih impor. hal ini hanya menjadi sebatas eventual, tidak adanya kesungguhan. Anggaran hanya habis untuk perjalanan dinas tanpa menghasilkan brief note apa yang bisa menyelesaikan persoalan. katakanlah industri kita pindang yang sampai saat ini begitu begitu saja, tidak ada terobosan, dibantu pihak luar pun sudah, tapi hasilnya juga mengkhawatirkan.


oleh karena itu, saya sangat sadar bahwa memajukan ekonomi perikanan in tidak mudah. Butuh political will negara.  Semua stakeholder harus satu frekuensi baik dari hulu sampai hilir sehingga terwujudnya integrasi. Regulasi yang berubah ubah dan penuh ketidakpastian harus diselesaikan. Perlu blue print, disemua sekotr dari tangkap hingga hilir industrialisasi, apa target jangka pendek, menengah, hingga panjang sehingga ganti menteri tidak lagi berubah kebijakan. Program yang mulityears dan menyentuh satu program secara komperhensif tidak parsial, dan ini butuh dukungan DPR. yang tak kalah penting adalah, kesungguhan dan kemauan para pemangku kepentingan untuk memajukan sektor ini, tidak lagi sifatnya eventual, hanya seremoni, tapi langkah konkrti untuk memajukan nelayan kita. seperti jepang, yang mempunyai koperasi nelayan yang membuat industri disana tertata rapi dan disiplin. Nawa cita Presiden, untuk kemajuan industri perikanan berdaya saing harus diwujudkan nyata. Tidak lagi mangkrak, dan menjadi museum hingga akhirnya, 


*opinipribadi